BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

MENPERIN : PERKAPALAN HINGGA TEKNOLOGI POTENSIAL DIKEMBANGKAN RI-RUSIA

Kategori

Ekonomi Bisnis

Terbit Pada

15 October 2026

28758334

IQPlus, (15/10) - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menyampaikan sektor perkapalan hingga teknologi informasi (IT) merupakan sektor potensial untuk dikembangkan melalui kerja sama industri Indonesia dan Rusia.

Ini disampaikan dia dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia Alexey Gruzdev di Jakarta, Kamis.

Dirinya dikonfirmasi menyampaikan lima sektor industri yang berpotensi dikembangkan bersama kedua negara, yakni permesinan dan rekayasa, peralatan dan komponen perkeretaapian, telekomunikasi dan teknologi digital, pupuk dan bahan kimia, serta perkapalan.

"Kerja sama pada sektor-sektor tersebut kami harapkan dapat memperluas kemampuan industri nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk manufaktur Indonesia," kata Sarmuji.

"Ada beberapa penawaran yang diajukan, termasuk di bidang perkapalan, mereka menawarkan kerja sama kapal ikan. Mereka punya teknologi dan keahlian yang mungkin bisa kita kerja samakan. Selain itu, juga ada di bidang IT yang mereka tawarkan," ujarnya lagi.

Di sektor perkapalan, Indonesia dan Rusia berpeluang menjajaki pengembangan teknologi kapal penangkap ikan modern yang dilengkapi fasilitas pengolahan hasil perikanan di atas kapal.

Namun, realisasi kerja sama tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut dengan mempertimbangkan aspek teknis, kebutuhan operasional, kelayakan komersial, serta keterlibatan industri perkapalan nasional.

Peluang kolaborasi juga terbuka melalui kemitraan antara Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO) dan perusahaan perkapalan Rusia, Ak Bars.

Kemitraan ini diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui pengembangan kemampuan industri galangan kapal, desain dan rekayasa, produksi komponen, serta pemeliharaan dan perbaikan kapal.

Pada sektor permesinan dan rekayasa, Indonesia membuka peluang kemitraan dengan perusahaan Rusia untuk mengembangkan komponen industri, peralatan perkeretaapian, perakitan lokal, serta layanan pemeliharaan dan perbaikan.

Kerja sama juga dapat mencakup pertukaran keahlian teknis dan peningkatan kemampuan pemasok dalam negeri agar terintegrasi dalam rantai produksi.

Sementara itu, di sektor telekomunikasi dan teknologi digital, kedua negara berpotensi menjajaki kerja sama dalam pengembangan peralatan telekomunikasi, sistem serat optik, digitalisasi proses produksi, dan teknologi otomasi industri.

Adapun di sektor pupuk dan bahan kimia, studi pembangunan pabrik urea di Vladivostok menjadi salah satu peluang untuk memperluas kolaborasi industri kimia kedua negara.

Sarmuji menambahkan Indonesia juga terbuka terhadap kemitraan di industri pengolahan makanan, farmasi, furnitur, barang konsumsi, serta industri pengolahan hilir yang memiliki prospek investasi dan pengembangan produksi di dalam negeri.

Berdasarkan data Trade Map 2025, ekspor Indonesia ke Rusia didominasi lemak dan minyak hewani atau nabati senilai 972,84 juta dolar AS. Komoditas lainnya meliputi bahan kimia anorganik senilai 300,34 juta dolar AS, kakao dan olahannya sebesar 122,68 juta dolar AS, serta kopi, teh, mate, dan rempah-rempah senilai 111,22 juta dolar AS.

Indonesia juga mengekspor mesin dan peralatan mekanis, karet dan barang dari karet, olahan pangan, produk kimia lainnya, alas kaki, serta kayu dan barang dari kayu ke Rusia.

Sebaliknya, impor Indonesia dari Rusia pada 2025 didominasi bahan bakar mineral dan minyak mineral senilai 1,76 miliar dolar AS, diikuti pupuk sebesar 697,96 juta dolar AS serta besi dan baja senilai 268,70 juta dolar AS.

Untuk memastikan keberlanjutan kerja sama, Kementerian Perindustrian mengusulkan agar kedua negara mengidentifikasi proyek-proyek industri prioritas yang berpotensi direalisasikan.(end/ant)