IRF 2026 SOROTI REFORMASI PASAR MODAL UNTUK PERKUAT KEPERCAYAAN INVESTOR
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
13 May 2026
13247099
IQPlus, (13/5) - Pemerintah bersama regulator pasar modal menegaskan komitmen menjaga stabilitas dan kepercayaan investor di tengah tekanan ekonomi global, dinamika geopolitik, serta meningkatnya risiko capital outflow dari pasar negara berkembang. Reformasi pasar modal dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat daya saing Indonesia sekaligus menjaga momentum pertumbuhan investasi nasional.
Hal tersebut mengemuka dalam Indonesia Investor Relations Forum (IRF) 2026 bertema "Reformasi Pasar Modal Tingkatkan Kepercayaan di Era Ketidakpastian Global"yang diselenggarakan oleh Kitacomm dan SUAR.id dengan dukungan Bursa Efek Indonesia (BEI), di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (11/5).
Mewakili Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Staf Ahli Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Pengembangan Produktivitas dan Daya Saing Ekonomi, Evita Manthovani, mengatakan Indonesia masih mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global. Menurutnya, fundamental ekonomi nasional tetap relatif kuat dengan valuasi pasar yang dinilai menarik bagi investor.
Evita menyoroti sejumlah langkah reformasi pasar modal yang mendapat perhatian positif dari pelaku pasar global, termasuk peningkatan ketentuan free float saham dari 7,5% menjadi 15% serta kenaikan porsi saham RTI 45 bagi dana pensiun dan perusahaan asuransi dari 8% menjadi 20%. Kebijakan tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya meningkatkan aksesibilitas dan likuiditas pasar modal Indonesia.
"Ke depan, kebutuhan pembiayaan Indonesia diperkirakan meningkat signifikan, dari Rp7.400 triliun menjadi Rp9.200 triliun pada 2029. Karena itu, menjaga kepercayaan investor dan memperkuat daya tarik pasar modal menjadi sangat penting,"ujar Evita.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki ruang sekaligus tanggung jawab untuk menunjukkan kepada pasar global bahwa agenda reformasi ekonomi dan pasar modal berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menilai pasar modal Indonesia masih memiliki fondasi domestik yang kuat di tengah volatilitas global, terutama ditopang pertumbuhan investor domestik yang terus meningkat.
Menurutnya, penguatan basis investor domestik, baik ritel maupun institusi, menjadi kunci menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.
"Selama fundamental ekonomi Indonesia tetap baik, maka pasar modal Indonesia juga akan tetap memiliki daya tahan yang kuat," ujar Friderica.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang transparan dan kolaboratif di antara regulator, emiten, investor, media, serta seluruh pemangku kepentingan pasar modal dalam menjaga kepercayaan publik terhadap industri pasar modal Indonesia.
"Pasar modal yang sehat membutuhkan komunikasi yang sehat. Karena komunikasi membentuk perspektif, dan perspektif membentuk kepercayaan,"katanya.
Investor Relations Dinilai Semakin Strategis
IRF 2026 merupakan kelanjutan dari Indonesia Investor Relations Forum (IRF) 2025 yang pertama kali diselenggarakan oleh Kitacomm bersama RAC Capital dengan dukungan Bursa Efek Indonesia.
Pada penyelenggaraan perdananya, IRF 2025 mengangkat tema "Decoding the New Era of Investor Relations" dan berfokus pada penguatan praktik investor relations, tata kelola perusahaan (GCG), serta implementasi ESG di pasar modal Indonesia.
Forum tersebut dihadiri lebih dari 250 pimpinan perusahaan dan pelaku pasar modal serta menjadi salah satu inisiatif untuk mendorong standardisasi praktik investor relations yang lebih strategis dan transparan di Indonesia. Melanjutkan inisiatif tersebut, IRF 2026 mengangkat isu reformasi pasar modal dan penguatan kepercayaan investor di tengah meningkatnya ketidakpastian global, perubahan pola investasi, serta pertumbuhan investor ritel domestik.
Sebagai pionir konsultan public relations di Indonesia yang berfokus pada industri pasar modal lebih dari 25 tahun, Kitacomm memandang peran investor relations kini semakin strategis, tidak hanya sebagai fungsi komunikasi perusahaan, tetapi juga sebagai jembatan kepercayaan antara perusahaan, investor, dan seluruh pemangku kepentingan di ekosistem pasar modal.
"Di tengah volatilitas global dan dinamika pasar yang bergerak sangat cepat, keterbukaan informasi, komunikasi yang kredibel, serta konsistensi pesan menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan investor dan menjaga reputasi perusahaan terbuka," ujar Henny Lestari, Founder & CEO Kitacomm. Menurutnya, IRF 2026 diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi dan pertukaran perspektif antara regulator, emiten, investor, media, dan pelaku pasar untuk memperkuat praktik transparansi dan komunikasi pasar modal di Indonesia.
Forum ini menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan utama pasar modal Indonesia, antara lain Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Evita Manthovani, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun, Pjs. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik, Chief Investment Officer BPI Danantara Indonesia Pandu Sjahrir, Direktur Utama Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana, President Director PT Super Bank Indonesia Tbk Tigor M. Siahaan, serta President Director Schroders Indonesia Michael T. Tjoajadi. Diskusi panel dalam IRF 2026 dimoderatori oleh Founder dan Editor-in-Chief SUAR.id, Sutta Dharmasaputra.
Acara yang didukung oleh Bursa Efek Indonesia, Mandiri Sekuritas, BCA, Amman Minerals, Pelindo, Telkom Indonesia, dan OCBC ini dihadiri lebih dari 200 peserta yang terdiri atas praktisi investor relations, direksi perusahaan tercatat, regulator, investor institusi, analis, serta media ekonomi dan bisnis nasional. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
