Latest update: 25-06-2026, 00:22
Americas
Risalah Fed tunjukkan bias hawkish dengan ruang fleksibilitas kebijakan. Mayoritas pejabat The Fed menilai pengetatan tambahan kemungkinan diperlukan jika inflasi tetap di atas target 2%, meski sebagian juga membuka peluang penurunan suku bunga apabila disinflasi menguat atau pasar tenaga kerja melemah. Keputusan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75% diambil dengan suara tidak bulat, mencerminkan meningkatnya perbedaan pandangan di internal FOMC mengenai arah kebijakan ke depan.
Suku bunga KPR AS naik, permintaan kredit perumahan melemah. Suku bunga KPR 30 tahun di AS naik ke sekitar 6,56%, mencapai level tertinggi tujuh minggu seiring kenaikan yield Treasury yang dipicu kekhawatiran inflasi dan utang global. Kenaikan ini menekan aktivitas pasar perumahan, tercermin dari penurunan aplikasi KPR sebesar 2,3%, dengan permintaan pembelian rumah turun signifikan.
Yield UST turun seiring harapan de‑eskalasi konflik AS–Iran. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun ke sekitar 4,60% dari puncak 16 bulan seiring munculnya sinyal kemajuan negosiasi AS–Iran yang menekan harga energi dan meredakan risiko inflasi. Meski demikian, tekanan inflasi sebelumnya yang menyebar ke komponen inti membuat sebagian anggota The Fed tetap membuka ruang kenaikan suku bunga, dengan pasar masih melihat peluang pengetatan terbatas ke depan.
Europe
Inflasi Inggris melandai, harga produsen Jerman kembali naik. Inflasi tahunan Inggris turun ke 2,8% pada April 2026—terendah sejak tahun lalu—dipicu perlambatan tajam biaya perumahan dan layanan rumah tangga setelah kebijakan pembatasan harga energi, meski tekanan dari harga bahan bakar masih tinggi. Sementara itu di Jerman, inflasi produsen kembali meningkat menjadi 1,7% YoY, terutama didorong kenaikan harga energi dan bahan baku akibat konflik Timur Tengah, menandakan tekanan biaya masih berlanjut di sektor industri.
Yield Eropa turun tipis seiring harapan de‑eskalasi konflik AS–Iran. Yield Gilt Inggris turun ke bawah 5,1% sementara Bund Jerman melemah ke sekitar 3,05% seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga setelah data inflasi dan tenaga kerja yang lebih lemah, di tengah optimisme bahwa negosiasi AS–Iran dapat membuka kembali jalur pasokan energi global. Meski demikian, pasar tetap berhati‑hati karena pasokan minyak diperkirakan masih ketat dalam jangka pendek, sehingga tekanan inflasi dan volatilitas pasar keuangan berpotensi bertahan.
Asia
Data Asia‑Pasifik mixed: tekanan inflasi Korea naik, aktivitas regional melemah. Inflasi produsen Korea Selatan melonjak 6,9% YoY pada April 2026 didorong kenaikan tajam harga energi, khususnya produk minyak dan batubara, menunjukkan tekanan biaya yang tinggi. Sementara itu, aktivitas di kawasan menunjukkan pelemahan, tercermin dari kontraksi sektor jasa Australia serta perlambatan PMI manufaktur dan stagnasi sektor jasa Jepang, mengindikasikan permintaan regional yang masih tertekan di tengah risiko global.
Yield obligasi Asia beragam dipengaruhi inflasi dan kebijakan moneter. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun bertahan di sekitar 2,79% mendekati level tertinggi multi‑dekade seiring data pertumbuhan yang kuat dan tekanan inflasi dari kenaikan harga energi memperkuat ekspektasi pengetatan BOJ, sementara di China yield 10 tahun turun ke sekitar 1,74% akibat stance kebijakan yang tetap akomodatif di tengah perlambatan ekonomi domestik yang mendorong harapan stimulus lanjutan.
