Terakhir diperbarui: 31-05-2026, 14:04
Americas
Harga WTI melemah jelang putaran kedua negosiasi AS–Iran. Harga minyak WTI turun ke sekitar USD86 per barel setelah muncul laporan Iran akan mengirim delegasi ke Islamabad untuk putaran kedua perundingan dengan AS sebelum gencatan senjata dua pekan berakhir, berbalik dari penolakan sebelumnya. Meski demikian, ketidakpastian tetap tinggi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan tidak akan diperpanjang tanpa kesepakatan dan Selat Hormuz akan tetap diblokir hingga deal tercapai.
Yield US Treasury bertahan datar. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun stabil di sekitar 4,25% seiring pasar mencermati eskalasi ketegangan AS–Iran dan ketidakpastian kelanjutan gencatan senjata, sementara kenaikan tipis harga minyak menjaga kekhawatiran inflasi sehingga menahan pergerakan yield dan membuat investor tetap bersikap hati‑hati. Arah selanjutnya diperkirakan tetap dipengaruhi dinamika geopolitik dan ekspektasi kebijakan The Fed yang cenderung wait‑and‑see.
Europe
PPI Jerman mendekati pemulihan, tekanan energi kembali menguat. Harga Produsen (PPI) Jerman turun tipis 0,2% YoY pada Maret 2026, penurunan tahunan paling ringan sejak tren deflasi dimulai setahun lalu, seiring perlambatan penurunan harga energi. Meski energi secara tahunan masih turun, biaya produk minyak melonjak akibat ketegangan Timur Tengah, mendorong kenaikan PPI bulanan sebesar 2,5% MoM—tertinggi sejak Agustus 2022 dan jauh di atas ekspektasi. Di luar energi, harga produsen justru naik 1,3%, didukung kenaikan biaya barang modal, barang tahan lama, dan barang antara, menandakan tekanan biaya hulu kembali meningkat dan berpotensi merambat ke inflasi konsumen.
Yield obligasi Inggris dan Jerman naik di tengah eskalasi baru AS–Iran. Imbal hasil UK 10‑year gilt dan Bund Jerman 10 tahun kembali naik dipicu lonjakan harga energi setelah ketegangan AS–Iran kembali memanas. Kondisi ini meningkatkan ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan Bank of England dan ECB ke depannya, sementara risiko politik domestik Inggris turut membebani sentimen. Di sisi lain, IMF memperkirakan pengetatan ECB sekitar 50 bps pada 2026.
Asia
PBoC pertahankan suku bunga acuan di level terendah historis. Bank sentral China (PBoC) kembali menahan Loan Prime Rate untuk bulan ke‑11 berturut‑turut pada April 2026, dengan LPR 1 tahun di 3,0% dan LPR 5 tahun di 3,5%, sesuai ekspektasi pasar. Kebijakan ini mencerminkan sikap hati‑hati di tengah dampak konflik Timur Tengah, meski tekanan deflasi domestik mulai mereda dan pertumbuhan awal tahun menunjukkan ketahanan. PBoC menegaskan kebijakan moneter akan tetap supportive dan moderately loose guna menopang aktivitas ekonomi sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar dan kondisi keuangan.
Fitch ubah outlook kredit Filipina jadi negatif, peringkat tetap BBB. Fitch Ratings merevisi outlook kredit Filipina menjadi negatif dari stabil pada 20 April 2026, sembari mempertahankan peringkat utang BBB, dengan alasan meningkatnya risiko pertumbuhan. Fitch menyoroti gangguan pada investasi publik serta eksposur tinggi terhadap guncangan energi global yang menekan prospek pertumbuhan jangka menengah, di tengah tingkat utang pemerintah pascapandemi yang lebih tinggi dan memburuknya posisi keuangan eksternal.
Yield Jepang dan China turun, pasar cermati arah kebijakan bank sentral. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun turun ke sekitar 2,4%, melanjutkan pelemahan pekan lalu di tengah ketidakpastian arah kebijakan BOJ, setelah Gubernur Kazuo Ueda belum memberi sinyal jelas soal kenaikan suku bunga April meski proyeksi inflasi diperkirakan naik akibat biaya energi tinggi. Di China, yield obligasi 10 tahun jatuh ke sekitar 1,75%, terendah lebih dari satu bulan, seiring ekspektasi kebijakan moneter tetap akomodatif dengan suku bunga acuan (LPR) dipertahankan di level terendah historis.
