Terakhir diperbarui: 16-06-2026, 22:28
Americas
ISM manufaktur AS menguat, sinyal permintaan tetap solid meski tekanan harga tinggi. Indeks ISM Manufacturing naik ke 54 pada Mei 2026—tertinggi sejak 2022—ditopang peningkatan pesanan baru, produksi, dan backlog, yang menunjukkan momentum sektor manufaktur masih kuat. Meski demikian, tekanan harga tetap elevated dan volatilitas biaya masih tinggi, mencerminkan dampak berlanjut dari konflik Iran dan ketidakpastian global terhadap rantai pasok dan biaya produksi.
Harga WTI bertahan tinggi di tengah kebuntuan negosiasi AS–Iran. Harga minyak WTI tetap di atas USD 92 per barel seiring minimnya progres dalam pembicaraan damai AS–Iran, yang menjaga kekhawatiran gangguan pasokan global—terutama risiko penutupan Selat Hormuz dan Bab el‑Mandeb. Ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi ini terus menopang harga energi dan berpotensi mempertahankan tekanan inflasi global ke depan.
Yield UST naik di tengah risiko inflasi dari energi dan geopolitik. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,51% seiring kenaikan harga minyak akibat eskalasi konflik AS–Iran yang meningkatkan kekhawatiran inflasi. Risiko penutupan Selat Hormuz memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, dengan pasar kini memprice‑in peluang kenaikan The Fed yang semakin besar, meski tekanan terhadap independensi bank sentral juga menjadi perhatian tambahan bagi investor.
Europe
Ekspektasi inflasi Zona Euro tetap tinggi, outlook ekonomi melemah. Ekspektasi inflasi konsumen Zona Euro untuk 12 bulan ke depan bertahan di 4% pada April 2026, sementara ekspektasi jangka panjang relatif stabil, menunjukkan tekanan harga masih persisten meski mulai lebih terkendali. Di sisi lain, ekspektasi pertumbuhan ekonomi memburuk dan proyeksi pendapatan melemah, menandakan risiko perlambatan aktivitas. Meski tingkat pengangguran relatif stabil di 6,3%, kondisi ini mencerminkan kombinasi tekanan inflasi dan pelemahan ekonomi yang dapat menyulitkan arah kebijakan moneter ECB ke depan.
Yield Eropa naik di tengah eskalasi geopolitik dan kekhawatiran inflasi. Yield Gilt Inggris kembali naik ke atas 4,9% sementara Bund Jerman menembus 3% seiring meningkatnya ketegangan AS–Iran yang mendorong harga energi lebih tinggi dan memperkuat risiko inflasi. Kondisi ini mendorong pasar kembali meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank of England dan ECB, meskipun data domestik seperti pelemahan harga rumah di Inggris menunjukkan adanya tekanan pada aktivitas ekonomi.
Asia
Inflasi Korea Selatan meningkat dipicu tekanan energi. Inflasi tahunan Korea Selatan naik ke 3,1% pada Mei 2026—tertinggi sejak Maret 2024—didorong lonjakan harga energi dan transportasi di tengah konflik Timur Tengah. Kenaikan ini menunjukkan tekanan inflasi yang semakin luas di berbagai sektor, yang berpotensi mempertahankan sikap hati‑hati kebijakan moneter ke depan meski pertumbuhan ekonomi menghadapi tantangan.
Yield obligasi Asia bergerak berlawanan di tengah dinamika global. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik ke sekitar 2,69% seiring kenaikan harga minyak dan ketidakpastian negosiasi AS–Iran yang kembali meningkatkan risiko inflasi, meski pelemahan belanja modal menunjukkan momentum domestik mulai terbatas. Sementara itu, yield obligasi China turun ke sekitar 1,70%—terendah sejak 2025—mencerminkan meningkatnya permintaan aset aman di tengah perlambatan ekonomi dan melemahnya indikator aktivitas domestik.
