TATA PORTOFOLIO BISNIS, ERAJAYA ALIHKAN MEREK LAMINA DAN LOOPS SENILAI RP50,5 MILIAR
Share via
Terbit Pada
03 July 2026
Saham Terkait
Terakhir diperbarui: 03-07-2026, 12:23:am
18334885
IQPlus, (3/7) - PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) melalui anak perusahaannya, PT Teletama Artha Mandiri (TAM), berencana mengambil alih unit bisnis merek private label Lamina dan Loops dari PT Sinar Eka Selaras Tbk (SES/ERAL). Transaksi pengalihan hak atas dua merek yang memproduksi aksesori smartphone seperti protective skin, charger, hingga power bank ini disepakati dengan nilai transaksi sebesar Rp50,5 miliar.
Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari penataan portofolio bisnis di dalam internal Erajaya Group. Manajemen ERAA menjelaskan bahwa pengalihan ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi pasar merek Lamina dan Loops dengan memanfaatkan jaringan distribusi, infrastruktur logistik, serta ekosistem komersial kuat yang dimiliki oleh TAM selaku entitas yang berbasis distribusi utama.
Rencana ini dikategorikan sebagai transaksi afiliasi di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sesuai dengan regulasi POJK Nomor 42/POJK.04/2020. Pasalnya, ERAA bertindak sebagai pemegang saham pengendali langsung dengan kepemilikan 80,00 persen saham di SES, sekaligus mengendalikan 99,99 persen saham TAM secara tidak langsung melalui PT Erafone Artha Retailindo. Selain itu, terdapat kesamaan jajaran manajemen puncak di antara ketiga entitas tersebut.
Guna memastikan kepatuhan regulasi pasar modal dan melindungi kepentingan pemegang saham, perusahaan telah menunjuk Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Ruky, Safrudin & Rekan (RSR) selaku penilai independen. Berdasarkan laporan penilaian independen per 31 Desember 2025, nilai pasar unit bisnis Lamina dan Loops diestimasi mencapai Rp54,54 miliar.
Dengan demikian, harga rencana transaksi sebesar Rp50,5 miliar dinyatakan wajar karena berada dalam batas kisaran fleksibilitas 7,5 persen yang ditetapkan OJK. Melalui analisis proyeksi keuangan konsolidasian untuk periode 2026-2030, pengalihan unit bisnis ini diproyeksikan tidak akan mengubah total aset, total liabilitas, maupun pendapatan bersih keseluruhan grup secara material. Namun, restrukturisasi internal ini berpotensi meningkatkan profitabilitas jangka panjang, yang tecermin dari perkiraan kenaikan tipis pada rasio Return on Asset (ROA) grup dari 7,49 persen menjadi 7,50 persen pada akhir periode proyeksi tahun 2030.
Di sisi lain, manajemen mengidentifikasi bahwa risiko utama yang mungkin dihadapi dari pelaksanaan transaksi ini adalah potensi tidak tercapainya sinergi operasional atau kurang optimalnya pengelolaan aset dalam grup setelah pengalihan. Kendati demikian, kedua belah pihak berkomitmen untuk segera merampungkan penandatanganan Perjanjian Jual Beli formal guna merealisasikan konsolidasi operasional tersebut. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
