SATRIA MEGA KENCANA (SOTS) TARGETKAN PENDAPATAN RP25,34 MILIAR DI 2026
Share via
Terbit Pada
02 July 2026
Saham Terkait
Terakhir diperbarui: 02-07-2026, 09:35:am
18239927
IQPlus, (2/7) - Emiten pengelola properti dan perhotelan, PT Satria Mega Kencana Tbk, resmi menyampaikan laporan pelaksanaan Public Expose Tahunan kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (2/7). Melalui agenda yang diselenggarakan secara hybrid tersebut, manajemen memaparkan kinerja keuangan terkini, rencana strategis, hingga status aksi korporasi Perseroan untuk tahun buku 2026.
Direktur Utama Floreta Tane dan Direktur Cesilia Purba memaparkan bahwa Perseroan membidik target pendapatan usaha sepanjang tahun 2026 sebesar Rp25,34 miliar dengan proyeksi laba kotor sekitar Rp15,3 miliar. Hingga periode Mei 2026, Perseroan tercatat telah mengantongi pendapatan kurang lebih Rp8,1 miliar, didorong oleh rata-rata tingkat keterisian kamar (occupancy) sebesar 67,47% dan harga rata-rata kamar di angka Rp723.747.
Terkait aksi korporasi, manajemen mengumumkan penundaan rencana ekspansi usaha melalui mekanisme Penawaran Umum Terbatas (Rights Issue) yang semula ditujukan untuk mengakuisisi entitas berelasi pemilik properti Desa Kitsune di Bali. Langkah penundaan sementara ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian global yang masih penuh ketidakpastian, serta situasi pasar modal domestik yang dinilai belum kondusif.
Dari sisi penyerapan anggaran modal, emiten berkode saham SURN ini mencatatkan realisasi belanja modal (capex) sebesar Rp416 juta per Mei 2026, setelah sebelumnya merealisasikan sekitar Rp980 juta pada sepanjang tahun 2025. Selain menunda ekspansi, manajemen juga mengonfirmasi tidak adanya rencana pembagian dividen untuk tahun buku 2025 mengingat performa profitabilitas Perseroan yang masih membukukan rugi bersih.
Menghadapi persaingan pasar perhotelan yang ketat, manajemen mengakui adanya tekanan pada Average Room Rate akibat kompetisi harga antar pelaku usaha sejenis, di samping adanya dampak efisiensi belanja MICE pemerintah. Untuk mengatasinya, SURN kini fokus melakukan diversifikasi pendapatan guna mengurangi ketergantungan pada segmen pemerintahan, dengan menggenjot sektor non-kamar seperti food & beverage (F&B) dan kegiatan social event.
Dalam sesi tanya jawab, manajemen turut mengklarifikasi penurunan beban pajak perusahaan yang menyusut hingga 53%. Penurunan tersebut ditegaskan murni sebagai konsekuensi atas kerugian usaha yang dialami oleh anak perusahaan, PT Dwimukti Mitra Wisata, sehingga berdampak pada perhitungan basis pajak yang lebih rendah, dan bukan berasal dari pemanfaatan insentif pajak pariwisata dari pemerintah.
Menutup keterangannya, manajemen menegaskan komitmennya terhadap aspek tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Terkait pemenuhan regulasi OJK atas transaksi afiliasi pada penjualan aset vila, SURN memastikan proses penentuan harga wajar telah dilakukan melalui penilaian independen oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) resmi, serta telah dilaporkan dalam bentuk Keterbukaan Informasi ke otoritas pasar modal. (end)
