OUTLOOK STABIL DARI S&P, PRASASTI INGATKAN KEBIJAKAN HARUS TERPREDIKSI
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
15 July 2026
19547626
IQPlus, (15/7) - S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook stabil.
Menanggapi hal tersebut, Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) mengingatkan pemerintah agar merancang kebijakan yang lebih terprediksi dan konsisten dalam pelaksanaannya.
Research Director Prasasti Adhi Nugroho Saputro, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, mengatakan peringkat kredit yang dipertahankan bukan berarti seluruh persoalan ekonomi telah selesai.
Sebaliknya, pelemahan sejumlah indikator juga tidak serta-merta menandakan krisis.
"Peringkat yang dipertahankan tidak berarti persoalan selesai dan indikator yang melemah tidak otomatis berarti krisis. Yang kita hadapi adalah kombinasi keduanya. Publik perlu terbiasa membaca angka secara utuh, karena dari pembacaan yang utuh itulah respons kebijakan yang tepat bisa lahir," ujarnya.
Menurut Prasasti, afirmasi peringkat kredit dari S&P hadir di tengah beragam sinyal tekanan terhadap perekonomian.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS, menjadi defisit pertama sejak April 2020.
Sementara itu, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia terkontraksi ke level 46,9 pada Juni 2026. Inflasi juga meningkat menjadi 3,34 persen.
Di sisi lain, sejumlah indikator fundamental masih menunjukkan ketahanan.
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I 2026, tertinggi untuk periode kuartal pertama sejak 2013.
Neraca perdagangan kumulatif Januari-Mei 2026 masih mencatat surplus sebesar 4,03 miliar dolar AS, sedangkan cadangan devisa pada Juni mencapai 145,6 miliar dolar AS atau setara 5,5 bulan impor. Inflasi juga masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia (BI) sebesar 2,5 persen plus minus 001 persen.
Adhi memandang kondisi tersebut perlu dibaca secara menyeluruh agar publik dapat membedakan tekanan jangka pendek dengan pelemahan fundamental ekonomi.
"Catatan S&P cukup terbuka. Yang menentukan bukan hanya isi kebijakannya, melainkan seberapa bisa diprediksi arahnya dan seberapa konsisten pelaksanaannya. Ini pekerjaan yang bisa dikerjakan, dan hasilnya akan cepat terbaca oleh pasar," jelas Adhi.
Prasasti menilai defisit perdagangan pada Mei 2026 perlu dipahami secara lebih mendalam.
Policy and Program Director Prasasti Piter Abdullah juga menilai kenaikan inflasi lebih banyak dipengaruhi faktor pasokan dan musiman.
"Kalau kita bedah, karakter inflasi kita lebih banyak didorong sisi pasokan dan faktor musiman, bukan karena permintaan domestik yang membludak. Inflasi inti kita tetap rendah. Jadi, tekanan harga yang muncul sifatnya sementara, bukan struktural," jelas Piter.
Mengenai nilai tukar rupiah, Piter menilai tekanan yang terjadi berasal dari berbagai faktor sehingga tidak dapat diatasi hanya melalui kebijakan moneter.
"Sumber tekanan terhadap rupiah lebih banyak berasal dari faktor nonmoneter, baik dari sisi global yang masih penuh ketidakpastian maupun dari sisi domestik, terutama pengelolaan fiskal yang menjadi sorotan lembaga pemeringkat. Ketika pemerintah mampu meyakinkan investor bahwa risiko fiskal dikelola dengan baik dan transparan, tekanan terhadap rupiah akan berkurang," kata dia. (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
