BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    KENA TARIF AS, INDONESIA ALIHKAN JUAL UDANG KE TIONGKOK

    Terbit Pada

    06 August 2025

    21748685

    IQPlus, (6/8) - Di sebuah tambak udang di Indonesia, lebih dari 16.000 km (9.942 mil) dari Washington D.C., tarif impor Presiden AS Donald Trump telah mengacaukan rencana ekspansi Denny Leonardo.

    Leonardo awalnya menargetkan penambahan sekitar 100 tambak baru tahun ini ke tambaknya yang berjumlah 150 di ujung barat daya Pulau Jawa, tetapi terpaksa mempertimbangkan kembali ketika pesanan dari AS menyusut menyusul ancaman tarif awal Trump pada bulan April.

    Meskipun tarif terbaru sebesar 19%, yang disepakati dengan Washington pada bulan Juli dan akan berlaku minggu ini, lebih rendah dari tarif awal sebesar 32%, Leonardo memperhitungkan kerugian yang dialami bisnisnya.

    "Dengan tekanan AS terhadap ekspor Indonesia, semua pihak bersemangat mencari peluang baru untuk melakukan diversifikasi, guna mengurangi ketergantungan mereka pada AS," ujar petani udang berusia 30 tahun itu setelah pengumuman pada bulan Juli.

    Amerika Serikat merupakan pasar terbesar bagi udang Indonesia, membeli 60% dari total ekspor udang Indonesia senilai $1,68 miliar tahun lalu.

    Andi Tamsil, ketua asosiasi petambak udang Indonesia, memperkirakan tarif 19% tersebut dapat mengakibatkan penurunan total ekspor hingga 30% tahun ini dibandingkan tahun 2024, sehingga membahayakan mata pencaharian satu juta pekerja.

    Bahkan dengan kesepakatan bulan Juli, sebagian besar pelanggan AS masih menunda pembelian udang mereka, kata Budhi Wibowo, ketua asosiasi pengusaha makanan laut. Ia mencatat bahwa tarif baru ini merugikan Indonesia dibandingkan Ekuador, produsen udang budidaya terbesar dunia, yang tarif impornya ditetapkan sebesar 15%.

    Tiongkok adalah importir udang terbesar di dunia berdasarkan volume, tetapi masyarakat Indonesia lebih memilih menjual ke AS karena mereka bisa mendapatkan harga yang lebih baik, kata Budhi.

    Sebelum tarif, Tiongkok biasanya hanya membeli 2% dari ekspor makanan laut Indonesia.

    Kini, industri ini harus bekerja keras untuk mempromosikan produknya kepada pembeli Tiongkok.

    Pada bulan Juni, Tamsil, dari asosiasi petambak udang, melakukan perjalanan bersama delegasi perwakilan industri ke kota Guangzhou di Tiongkok selatan untuk bertemu dengan para importir, pemilik restoran, dan platform agri-commerce. Perjalanan selanjutnya direncanakan. (end/Reuters)