BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    INDUSTRI DAUR ULANG TEKANKAN KESIAPAN PERKUAT BAHAN BAKU PLASTIK

    Kategori

    Ekonomi Bisnis

    Terbit Pada

    17 April 2026

    10640058

    IQPlus, (17/4) - Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) menekankan kesiapan untuk memperkuat bahan baku plastik nasional di tengah tekanan geopolitik global yang memicu kenaikan harga dan risiko gangguan pasokan.

    Direktur Eksekutif ADUPI Hadiyan Fariz dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat, menyampaikan bahwa industri daur ulang telah menjadi bagian penting dalam sistem pasokan bahan baku plastik nasional.

    Menurut dia, dalam kondisi ketergantungan impor yang masih tinggi, kehadiran material daur ulang dinilai mampu menjadi penopang yang lebih stabil karena berbasis sumber daya domestik.

    "Industri daur ulang plastik telah memainkan peran nyata dalam menopang kebutuhan bahan baku nasional," katanya.

    Ia menjelaskan, saat ini sekitar 70 persen kebutuhan nafta nasional masih berasal dari impor, sedangkan bahan baku plastik jadi jenis resin virgin juga masih bergantung pada impor sebesar 40-50 persen.

    Kondisi itu membuat pasar domestik rentan terhadap fluktuasi harga global serta dinamika geopolitik, termasuk di kawasan Selat Hormuz.

    Di sisi lain, industri daur ulang telah berkontribusi 20 persen terhadap total pasokan bahan baku plastik nasional. Dan, menurut dia, angka tersebut menunjukkan bahwa perannya tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan sudah menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga keberlangsungan industri.

    Selain menopang pasokan, industri ini juga dinilai mampu menjaga stabilitas harga di tingkat hilir dengan menyediakan alternatif bahan baku yang lebih terkendali.

    Ia mengatakan industri daur ulang berpotensi menekan kenaikan biaya produksi yang dapat berdampak pada harga produk konsumsi masyarakat, termasuk kemasan pangan dan kebutuhan sehari-hari.

    Menurut Hadiyan, penguatan industri daur ulang juga relevan dalam menjaga daya beli masyarakat karena dapat meredam inflasi berbasis biaya (cost-push inflation). (end/ant)