DUA KAPAL PERTAMINA BERHASIL KELUAR DARI KAWASAN TIMUR TENGAH
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
12 March 2026
07038724
IQPlus, (12/3) - PT Pertamina International Shipping (PIS) menyatakan dua dari empat kapal milik perusahaan telah berhasil keluar dari kawasan Timur Tengah, serta menekankan bahwa keselamatan awak kapal dan keamanan kargo merupakan prioritas.
Pjs Corporate Secretary Pertamina International Shipping, Vega Pita dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis menyatakan dua kapal yang telah meninggalkan area tersebut adalah PIS Paragon dan PIS Rinjani.
Ia menyampaikan kedua kapal itu tengah melayani distribusi energi untuk mitra pihak ketiga atau third party (non Pertamina).
Disampaikan dia bahwa per 10 Maret 2026, kedua kapal tersebut telah keluar dari area Timur Tengah, tepatnya dari Teluk Oman, dengan rute yang tidak melalui Selat Hormuz
Per 10 Maret 2026, kedua kapal tersebut telah keluar dari area Timur Tengah, tepatnya dari Teluk Oman, tanpa melewati jalur Selat Hormuz," ujar Vega.
Ia menegaskan bahwa dalam setiap operasional pelayaran, perusahaan menempatkan aspek keselamatan sebagai prioritas utama, terutama bagi para kru yang bertugas di lapangan.
"Prioritas utama kami adalah memastikan seluruh kru dan kargo tetap dalam kondisi aman dan terlindungi," kata Vega.
Meski demikian hingga 12 Maret 2026, masih terdapat dua kapal tanker PIS yang berada di Teluk Arab, yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro. Kedua kapal tersebut diketahui belum dapat melewati Selat Hormuz, namun dipastikan dalam kondisi aman.
"Hingga statement ini dibuat, masih terdapat dua kapal tanker PT Pertamina International Shipping yang berada di Teluk Arab, yakni, kapal VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro yang diketahui belum dapat melewati Selat Hormuz. Kedua kapal dan kru dalam kondisi aman," kata Vega.
Ia menjelaskan, dari dua kapal tersebut hanya VLCC Pertamina Pride yang dioperasikan untuk pemenuhan kebutuhan energi nasional, sedangkan Gamsunoro melayani distribusi energi untuk pihak ketiga.
"Keduanya dalam pemantauan intensif dan koordinasi berkelanjutan untuk memastikan kapal dapat segera melanjutkan perjalanannya dengan aman," ujarnya. (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
