Terakhir diperbarui: 20-07-2026, 05:38
Americas
Ekspektasi inflasi AS naik, sementara defisit perdagangan melebar. Ekspektasi inflasi konsumen AS untuk satu tahun ke depan meningkat menjadi 3,7%, tertinggi sejak September 2023, mencerminkan kekhawatiran bahwa tekanan harga masih akan bertahan meski pasar tenaga kerja menunjukkan perbaikan dan harga energi mulai melandai. Di sisi lain, defisit perdagangan AS melebar menjadi USD77,6 miliar pada Mei 2026 akibat lonjakan impor dan penurunan ekspor, yang berpotensi menjadi faktor penekan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026.
Harga minyak melonjak di atas USD72 per barel akibat meningkatnya risiko pasokan global. Crude oil naik lebih dari 5% sepanjang pekan setelah serangan udara terbaru AS ke Iran dan pencabutan izin ekspor minyak Iran memicu kembali kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Eskalasi konflik yang disertai serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan distribusi minyak, membalikkan sentimen pasar yang sebelumnya memperkirakan surplus pasokan akibat kenaikan produksi OPEC+ dan pemulihan output negara-negara Timur Tengah.
Yield UST naik ke 4,51% seiring kembali meningkatnya kekhawatiran inflasi. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,51%, tertinggi dalam sekitar satu bulan, setelah lonjakan harga minyak kembali memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan mendorong pasar sedikit meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Dolar AS juga menguat tipis menjelang rilis risalah FOMC, sementara pasar mencermati risiko gangguan pasokan energi dari eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Europe
Euro tertekan di tengah meningkatnya risiko politik dan inflasi kawasan Eropa. Euro bertahan di kisaran USD1,14 meski menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran inflasi serta meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan ECB yang lebih hawkish. Di sisi lain, komentar Presiden ECB Christine Lagarde yang tidak menutup kemungkinan keterlibatan dalam politik Prancis menjelang pemilu 2027 menambah ketidakpastian politik, meski ia tetap menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan tugas menjaga stabilitas harga hingga akhir masa jabatannya.
Yield obligasi Eropa naik seiring kembali meningkatnya risiko inflasi dan ketidakpastian politik. Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman, Inggris, dan Prancis bergerak lebih tinggi setelah harga minyak kembali menembus USD73 per barel akibat gangguan keamanan di Selat Hormuz yang meningkatkan kekhawatiran inflasi global. Di saat yang sama, pasar juga mencermati risiko fiskal dan politik di Eropa, termasuk peningkatan kebutuhan pembiayaan pemerintah Jerman serta perkembangan politik Prancis menjelang pemilu 2027, yang mendorong ekspektasi bahwa ECB dan BoE dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Asia
Surplus transaksi berjalan Jepang dan Korea Selatan tetap kuat. Jepang mencatat surplus transaksi berjalan sebesar JPY3.968,3 miliar pada Mei 2026, didukung perbaikan neraca perdagangan. Sementara itu, Korea Selatan membukukan surplus transaksi berjalan sebesar USD38,61 miliar, tertinggi sepanjang sejarah, ditopang lonjakan ekspor semikonduktor serta perbaikan pada komponen pendapatan primer dan neraca jasa.
Yield obligasi Jepang naik ke level tertinggi sejak 1997. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik di atas 2,8%, tertinggi sejak 1997, didorong kekhawatiran pasar terhadap peningkatan belanja fiskal, potensi penerbitan utang yang lebih besar, serta pelemahan yen yang memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan BOJ. Sementara itu, yield Australia tenor 10 tahun bertahan di atas 4,8% karena pasar masih menilai risiko inflasi domestik tetap tinggi meski ekspektasi kenaikan suku bunga RBA mulai berkurang seiring melemahnya data ekonomi global dan meredanya harga energi.
