Terakhir diperbarui: 25-10-2026, 17:51
Americas
Aktivitas manufaktur AS tetap kuat meski tekanan biaya meningkat. ISM Manufacturing PMI turun tipis menjadi 54,5 pada September 2026 dari 54,6 pada Agustus, namun masih menunjukkan ekspansi yang solid dengan kenaikan pesanan baru dan ketenagakerjaan. Di sisi lain, komponen harga melonjak tajam ke 77,9, mencerminkan meningkatnya tekanan biaya akibat kenaikan harga energi, tarif impor, serta bahan baku seperti baja dan aluminium. Kondisi ini menunjukkan sektor manufaktur AS masih resilien, tetapi risiko inflasi tetap tinggi dan dapat memperkuat pandangan bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama.
Harga minyak kembali menguat di tengah meningkatnya risiko geopolitik. Harga minyak mentah bertahan di sekitar USD 91 per barel setelah OPEC+ memutuskan mempertahankan kuota produksi pada November, sementara ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat menyusul operasi militer yang didukung Arab Saudi di Yaman dan gangguan terhadap jalur pelayaran energi di sekitar Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz.
Yield UST tetap tinggi meski data tenaga kerja melemah. Yield UST tenor 10 tahun kembali naik ke sekitar 5,25% setelah penurunan tajam pasca data nonfarm payrolls yang hanya bertambah 29 ribu pada September, jauh di bawah ekspektasi pasar. Meski data tersebut mengurangi peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober, pasar masih memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga lagi pada Desember di tengah kekhawatiran inflasi yang dipicu harga energi, kondisi fiskal AS, dan konflik Timur Tengah yang belum terselesaikan.
Europe
Inflasi Eurozone kembali meningkat akibat lonjakan harga energi. Inflasi tahunan Eurozone naik menjadi 3,8% YoY pada September 2026 dari 3,2% pada bulan sebelumnya dan melampaui ekspektasi pasar, terutama didorong oleh kenaikan harga energi yang melonjak 18,8% akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, inflasi jasa dan pangan juga menunjukkan percepatan, sementara inflasi inti naik menjadi 2,5% sehingga menandakan tekanan harga yang semakin meluas di kawasan.
Yield obligasi Eropa mulai turun, namun tekanan inflasi masih tinggi. Yield Bund Jerman tenor 10 tahun turun ke bawah 3,45% setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam 17 tahun, seiring meredanya tekanan jual di pasar obligasi dan meningkatnya permintaan terhadap aset yang lebih aman. Meski demikian, inflasi Eurozone yang naik ke 3,8% YoY pada September serta ekspektasi kenaikan suku bunga ECB lebih lanjut masih menjaga yield tetap berada di level yang tinggi. Di saat yang sama, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan tingginya kebutuhan pembiayaan di kawasan juga menjadi risiko yang dicermati.
Asia
Ekonomi Vietnam mencatat pertumbuhan yang sangat kuat pada 3Q26. PDB Vietnam tumbuh 9,95% YoY pada 3Q26, meningkat dari 8,81% pada kuartal sebelumnya dan menjadi laju pertumbuhan tertinggi sejak 2022. Kinerja tersebut ditopang oleh kuatnya sektor industri dan konstruksi, pertumbuhan investasi yang melonjak lebih dari 20%, serta ekspor yang tetap tumbuh solid di tengah pemulihan aktivitas ekonomi domestik dan global.
Yield Jepang dan China bergerak berlawanan di tengah perubahan ekspektasi kebijakan. Yield JGB tenor 10 tahun turun ke bawah 3,1% setelah meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven dan berkurangnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga BoJ yang lebih agresif dalam waktu dekat. Sementara itu, yield obligasi pemerintah China tenor 10 tahun naik ke sekitar 1,70% karena pasar menilai stimulus terbaru pemerintah masih belum cukup untuk mengatasi lemahnya permintaan domestik. Meski demikian, pasar tetap memperkirakan BoJ akan melanjutkan normalisasi kebijakan moneter, sementara investor China masih menantikan dukungan kebijakan yang lebih besar untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
