Terakhir diperbarui: 31-08-2026, 13:17
Americas
Harga gas alam AS naik, dolar AS stabil. Harga gas alam AS naik lebih dari 4% didorong peningkatan permintaan dari fasilitas ekspor LNG, dengan aliran gas ke terminal LNG mendekati level tertinggi dalam satu bulan. Sementara itu, indeks dolar AS bertahan di kisaran 99,7 menjelang rilis data inflasi AS pekan ini, setelah data tenaga kerja yang lebih lemah menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Pasar juga terus mencermati perkembangan negosiasi terkait Selat Hormuz yang masih menjadi sumber ketidakpastian bagi prospek energi dan inflasi global.
Harga minyak dan emas sama-sama menguat. Harga minyak naik ke atas USD82 per barel setelah ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz kembali meningkat, menyusul tuntutan baru dari AS kepada Iran serta belum tercapainya kesepakatan antara Iran dan Oman terkait jalur pelayaran di kawasan tersebut. Di sisi lain, harga emas menembus USD4.400 per ons, tertinggi dalam dua bulan, didorong permintaan aset safe haven dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Yield UST naik jelang rilis data inflasi AS. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,7% setelah kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan risiko suku bunga bertahan lebih tinggi lebih lama. Meski data tenaga kerja terbaru menunjukkan tanda-tanda perlambatan, pasar masih mencermati rilis data CPI dan PPI AS pekan ini untuk menilai arah kebijakan The Fed selanjutnya. Saat ini, peluang kenaikan suku bunga pada September masih terbelah relatif seimbang antara skenario kenaikan dan penahanan suku bunga.
Europe
Euro dan pound sterling bertahan kuat. Euro bertahan di atas USD1,15 didukung ekspektasi pertumbuhan ekonomi Eurozone yang masih solid dan berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah data tenaga kerja AS yang lebih lemah. Sementara itu, pound sterling juga berada dekat level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir, ditopang oleh sikap Bank of England yang menilai proses disinflasi masih berjalan sesuai harapan serta perbaikan bertahap pada pasar tenaga kerja Inggris. Ketidakpastian terkait pembukaan kembali Selat Hormuz masih menjadi faktor yang terus dicermati pasar.
Yield obligasi Eropa naik tipis. Yield Bund Jerman tenor 10 tahun naik ke sekitar 3,14%, sementara gilt Inggris tenor 10 tahun bertahan di kisaran 4,9% di tengah berlanjutnya ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjaga harga energi tetap tinggi. Kondisi ini mendorong pasar untuk tetap berhati-hati terhadap risiko inflasi, meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mulai mereda setelah data tenaga kerja AS yang lebih lemah.
Asia
Yen kembali melemah. Yen melemah ke atas level 159 per USD setelah mengembalikan sekitar separuh penguatan yang diperoleh pasca intervensi bersama Jepang dan AS pada akhir Juli. Pelemahan tersebut mencerminkan tekanan fundamental yang masih kuat, termasuk perbedaan suku bunga yang lebar, tingginya biaya energi, dan kekhawatiran fiskal. Meski demikian, pasar tetap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga lanjutan oleh Bank of Japan setelah anggota dewan menyoroti risiko inflasi yang semakin meningkat.
Yield Jepang naik, yield China tetap rendah. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik ke atas 2,8% didorong kembali meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat harga minyak yang lebih tinggi serta pandangan Bank of Japan yang melihat risiko inflasi masih meningkat. Sebaliknya, yield obligasi China tenor 10 tahun bertahan di sekitar 1,7%, mendekati level terendah dalam setahun, setelah inflasi Juli melambat ke 0,5% sehingga memperkuat ekspektasi pasar terhadap tambahan dukungan kebijakan dari pemerintah dan bank sentral untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
