WAPO BIDIK PERTUMBUHAN KINERJA 20 PERSEN PADA 2026
Share via
Terbit Pada
30 June 2026
Saham Terkait
Terakhir diperbarui: 11-06-2026, 11:12:am
18043682
IQPlus, (30/6) - PT Wahana Pronatural Tbk (WAPO) optimistis mampu membukukan pertumbuhan kinerja sebesar 10-20 persen sepanjang 2026, seiring membaiknya bisnis perdagangan biji kopi serta meningkatnya penjualan produk air minum dalam kemasan (AMDK) Air Alam dan minuman bervitamin C, Sunkist.
Direktur Utama PT Wahana Pronatural Tbk, Artha Lovie Aprillailie, mengatakan prospek bisnis kopi tahun ini jauh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi cuaca yang lebih mendukung membuat produksi biji kopi kembali normal sehingga pasokan dan permintaan diperkirakan meningkat.
"Tahun lalu produksi kopi terganggu akibat El Nino sehingga terjadi gagal panen di sejumlah daerah. Tahun ini kondisi cuaca jauh lebih baik sehingga kami optimistis bisnis kopi kembali tumbuh dan secara keseluruhan perseroan dapat mencatatkan pertumbuhan sekitar 10 hingga 20 persen," ujarnya dalam Paparan Publik, Senin (29/6).
Optimisme tersebut tercermin dari capaian kinerja pada kuartal pertama 2026. Hingga 31 Maret 2026, WAPO membukukan penjualan sebesar Rp206 miliar atau melonjak 186 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp72 miliar.
Kinerja positif juga berlanjut pada semester pertama 2026. Penjualan biji kopi hingga Juni mencapai Rp657 miliar atau meningkat 49,61 persen dibandingkan semester pertama 2025 yang sebesar Rp439 miliar.
Menurut Artha, tren pertumbuhan tersebut menjadi modal kuat bagi perseroan untuk mencapai target kinerja sepanjang tahun. Selain bisnis kopi yang mulai pulih, penjualan produk AMDK dan minuman bervitamin C, Sunkist juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
"Kontribusi bisnis air minum memang masih relatif kecil dibandingkan kopi, tetapi pertumbuhannya cukup baik sehingga ikut menopang kinerja perusahaan," katanya.
Direktur Operasional PT Wahana Pronatural Tbk, Iwan Setiawan, menjelaskan peningkatan penjualan produk Air Alam dan Sunkist didorong strategi pemasaran yang lebih agresif menyasar konsumen muda.
Perseroan memanfaatkan berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Facebook untuk memperkuat brand awareness. Selain itu, perusahaan aktif mendukung berbagai kegiatan olahraga, khususnya event lari yang saat ini tengah berkembang pesat di Indonesia.
Di sisi distribusi, WAPO memperluas jaringan penjualan melalui modern retail seperti Alfamidi, FamilyMart, Lawson, serta memperkuat penetrasi di pasar tradisional melalui jaringan toko-toko.
Perseroan juga terus mengembangkan penjualan melalui vending machine yang ditempatkan di lokasi dengan mobilitas tinggi seperti kampus dan stasiun kereta api.
"Saat ini kami telah mengoperasikan sekitar 100 vending machine yang tersebar di 28 kampus dan 52 stasiun kereta api di berbagai daerah. Strategi ini sesuai dengan gaya hidup masyarakat, khususnya generasi muda, yang menginginkan kemudahan dan kepraktisan," ujar Iwan.
Untuk memperkuat kapasitas produksi dan distribusi, WAPO saat ini memiliki pabrik AMDK di Medan dan Palembang masing-masing satu unit, lima pabrik di Jawa Barat, dua di Jawa Tengah, serta satu di Jawa Timur. Sementara produksi minuman Sunkist dilakukan di fasilitas maklon yang berada di Bogor dan Mojokerto.
"Ke depan, perseroan berencana membangun atau mengakuisisi pabrik sendiri guna meningkatkan efisiensi produksi. Selain itu, WAPO juga bersiap meluncurkan produk baru, Sunkist Isotonic, yang dijadwalkan mulai dipasarkan pada bulan depan," ungkapnya.
Sementara itu, Artha mengakui kinerja perseroan sepanjang 2025 masih mengalami tekanan. Penjualan tercatat sebesar Rp1,4 triliun, turun dibandingkan realisasi tahun 2024 yang mencapai Rp2,4 triliun akibat melemahnya bisnis kopi.
Sepanjang 2025, penjualan biji kopi masih menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 91,1 persen atau senilai Rp1,3 triliun. Disusul rumput laut sebesar Rp68,3 miliar atau 4,8 persen, AMDK Air Alam Rp42,7 miliar atau 3 persen, Sunkist Water C Rp7,7 miliar atau 0,5 persen, sedangkan sisanya berasal dari perdagangan komoditas lainnya. (end/ahd)
Riset Terkait
Berita Terkait
