BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    SEKTOR PROPERTI TERTEKAN REGULASI, BSBK ANDALKAN MOMENTUM IKN

    Terbit Pada

    24 April 2026

    Saham Terkait

    Terakhir diperbarui: 22-04-2026, 01:51:pm

    11349352

    IQPlus, (24/4) - Pada 2025, sektor real estate masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait perubahan regulasi perizinan pasca implementasi Undang-Undang Cipta Kerja. Salah satunya terkait Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk sektor real estate dengan kode 68111 yang belum tercantum dalam lampiran PP 5/2021.

    Selain itu, layanan Konfirmasi Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) dinilai masih menghadapi kendala karena belum adanya Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK), khususnya di daerah yang belum memiliki Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) atau peta digital. Regulasi terkait persetujuan lingkungan dalam Permen LHK 4/2021 juga dinilai belum sepenuhnya selaras dengan PP 64/2016.

    Di tengah tantangan tersebut, pengembangan ibu kota negara di Kalimantan Timur menjadi katalis positif bagi kawasan Balikpapan Superblock. Emiten property, PT Wulandari Bangun Laksana Tbk. (BSBK) menilai peningkatan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat berpotensi mendorong lonjakan pengunjung, baik dari dalam maupun luar kota.

    Kondisi tersebut tercermin dari meningkatnya kepadatan di kawasan, termasuk keterisian area parkir dan lalu lintas yang semakin padat.

    "Hal ini sekaligus menjadi dasar bagi perseroan untuk mempercepat peningkatan kapasitas parkir dan optimalisasi infrastruktur kawasan guna mengakomodasi pertumbuhan kunjungan," ujar Direktur Utama BSBK Christopher Sumasto Tjia, dalam acara Paparan Publik, Jumat (24/4/2026).

    Dari sisi kinerja, BSBK mencatatkan hasil yang relatif positif pada 2025 meskipun laba menurun. Berdasarkan laporan keuangan audit, total aset perseroan mencapai Rp2,91 triliun atau tumbuh sekitar 1,42% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp2,87 triliun.

    Liabilitas tercatat sebesar Rp746,57 miliar atau menurun sekitar 3,74% dari Rp775,59 miliar pada 2024. Sementara itu, total ekuitas meningkat 3,33% menjadi Rp2,16 triliun dari Rp2,09 triliun.

    Dari sisi top line, pendapatan perseroan naik 3,53% menjadi Rp374,20 miliar dibandingkan Rp361,49 miliar pada tahun sebelumnya. Namun, laba perseroan mengalami penurunan menjadi Rp69,66 miliar pada 2025, dibandingkan laba 2024 sebesar Rp349,58 miliar. (end)