BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

SAPX EXPRESS ANDALKAN EFISIENSI HADAPI KENAIKAN PERTAMAX DAN SUKU BUNGA

Terbit Pada

12 June 2026

Saham Terkait

Terakhir diperbarui: 15-06-2026, 10:06:am

16255261

IQPlus, (12/6) - PT Satria Antaran Prima Tbk (SAPX) membeberkan sejumlah langkah strategis guna menjaga stabilitas bisnis di tengah tantangan makroekonomi, mulai dari lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax hingga tren kenaikan suku bunga. Perusahaan kurir ini memilih fokus pada efisiensi operasional ketat serta penguatan segmen pasar spesifik guna mempertahankan pertumbuhan performa keuangan. Berdasarkan laporan Publik Ekspose Tahunan di Cawang, Jakarta Timur, efisiensi biaya yang dilakukan secara proaktif sejak awal 2025 sukses mendongkrak laba usaha perseroan hingga 29 persen.

Presiden Direktur SAPX, Budiyanto Darmastono, menjelaskan bahwa efisiensi tersebut bertumpu pada rasionalisasi jumlah tenaga kerja (manpower) yang disesuaikan dengan volume pengiriman, pengurangan sewa kantor cabang yang kurang produktif, hingga renegosiasi biaya Surat Muatan Udara (SMU) bersama maskapai Garuda Indonesia demi mendapatkan potongan harga yang kompetitif.

"Analisis rute dan optimalisasi kendaraan operasional juga kami lakukan secara masif. Kendaraan yang tadinya hanya beroperasi sekali, kini dimaksimalkan hingga dua kali sehari untuk menekan pengeluaran," ujar manajemen dalam paparan publik tersebut.

Kenaikan harga BBM komersial seperti Pertamax diakui menjadi tantangan berat bagi industri logistik nasional. SAPX memaparkan kondisi di lapangan yang cukup dilematis; pasalnya ketersediaan Pertalite sebagai BBM penunjang yang lebih ekonomis masih sulit diakses di luar wilayah Jawa dan Jabodetabek. Hal tersebut memaksa armada perusahaan di daerah menggunakan Pertamax, yang berimbas langsung pada pembengkakan beban operasional dan berpotensi menggerus margin laba perusahaan.

Menyikapi isu energi ini, SAPX bersama Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) mendorong pemerintah agar memberikan kebijakan khusus berupa subsidi atau jaminan ketersediaan Pertalite bagi pelaku industri logistik di wilayah luar Jawa, seperti Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi. Langkah ini dinilai krusial agar biaya logistik nasional tetap stabil dan tidak membebani konsumen akhir lewat kenaikan tarif pengiriman.

Di sisi keuangan, bayang-bayang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) diproyeksikan tidak akan mengguncang stabilitas internal perseroan secara drastis. Manajemen mengungkapkan, meski suku bunga acuan mengalami peningkatan signifikan, sejauh ini belum ada kebijakan dari perbankan yang menaikkan suku bunga pinjaman terhadap SAPX. Pihak perbankan dinilai masih sangat berhati-hati agar tidak menekan likuiditas dunia usaha, kecuali jika terjadi krisis ekonomi yang sangat parah.

Guna menjaga ketahanan di tengah situasi ekonomi saat ini, SAPX juga memutuskan untuk tidak membagikan dividen kepada pemegang saham untuk tahun buku kali ini. Selain itu, demi meredam dampak penguatan mata uang dolar AS yang memicu kenaikan harga bahan baku pengemasan (packing) plastik hingga 70 persen, perusahaan menerapkan strategi pengurangan lapisan packing dari tiga layer menjadi dua layer dengan pengawasan penanganan barang yang lebih ketat tanpa menaikkan harga ke pelanggan.

Melirik strategi ekspansi ke depan, perusahaan yang memulai kiprahnya dengan modal awal Rp30 miliar ini tetap optimis mampu bersaing di papan atas industri kurir tanah air lewat segmen Business-to-Business (B2B) khususnya sektor perbankan serta layanan Cash on Delivery (COD) berbasis sistem pelacakan digital terintegrasi. Segmen COD dan perbankan dipilih karena memiliki tingkat kompetisi yang relatif rendah; tercatat hanya ada kurang dari 10 perusahaan kurir dari total sekitar 700 pelaku industri di Indonesia yang mampu mengelola kompleksitas operasional serta tingginya risiko manajemen keuangan di segmen ini. (end)