RAAM CATAT PENDAPATAN Rp128,6 MILIAR DI SEMESTER I 2026
Share via
Terbit Pada
03 August 2026
Saham Terkait
Terakhir diperbarui: 22-07-2026, 11:50:am
21427347
IQPlus, (3/8) - PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM), salah satu perusahaan hiburan terintegrasi terkemuka di Indonesia, mencatatkan perbaikan signifikan pada kinerja operasional intinya sepanjang semester I 2026, didukung oleh penayangan film di bioskop yang lebih kuat, peningkatan monetisasi pustaka konten, serta kemajuan berkelanjutan dalam optimalisasi struktur permodalan.
RAAM membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp128,6 miliar pada semester I 2026, naik 14,7% dari Rp112,1 miliar pada semester I 2025. Laba kotor hampir dua kali lipat menjadi Rp52,6 miliar, tumbuh 91,2% secara tahunan, sementara margin laba kotor melebar menjadi 40,9% dari 24,5% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Beban umum dan administrasi juga turun 15,6%, sehingga Perseroan berhasil membukukan laba operasional sebesar Rp6,3 miliar, dibandingkan rugi operasional Rp27,3 miliar pada semester I 2025.
Berdasarkan laba operasional sebelum depresiasi dan amortisasi, RAAM membukukan estimasi EBITDA sekitar Rp16,9 miliar pada semester I 2026, mencerminkan pemulihan signifikan pada bisnis inti Perseroan. Perbaikan ini terlihat jelas pada kuartal kedua, ketika pendapatan naik menjadi sekitar Rp80,4 miliar dan EBITDA mencapai sekitar Rp22,2 miliar, dibandingkan rugi EBITDA pada kuartal pertama.
Bisnis film tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan Perseroan. Pendapatan film naik 30,4% secara tahunan menjadi Rp74,4 miliar, didukung oleh membaiknya performa penayangan di bioskop domestik dan regional. Cerita Lila berhasil menembus satu juta penonton bioskop di Indonesia, sementara Sengkolo 2 melampaui ekspektasi Perseroan di Malaysia dan menambah pendapatan box office internasional. RAAM juga meraih pendapatan sebesar Rp6,75 miliar dari serial televisi selama periode ini.
Selain dari rilis film baru, RAAM juga mencatatkan pendapatan yang lebih kuat dari monetisasi pustaka kontennya yang luas. Hasil ini mencerminkan pemanfaatan yang semakin optimal atas portofolio kekayaan intelektual Perseroan, mulai dari televisi, platform digital, perjanjian lisensi, hingga kanal distribusi lainnya. Manajemen memperkirakan monetisasi pustaka konten akan terus menjadi sumber pendapatan berulang yang semakin penting dan efisien dari sisi modal.
"Hasil semester pertama ini menunjukkan bahwa fundamental operasional RAAM semakin kuat. Perbaikan performa penayangan film kami, ditambah monetisasi pustaka konten yang lebih tinggi, mendorong pemulihan signifikan pada laba kotor dan EBITDA," ujar Vikas Chand Sharma, Direktur dan Chief Financial Officer RAAM.
"Di sisi lain, kami juga mengambil langkah-langkah tegas untuk meningkatkan efisiensi struktur permodalan. Dengan menurunkan pinjaman dan menekan beban bunga berulang, kami membangun fondasi keuangan yang lebih kuat untuk berinvestasi pada konten, memperluas jaringan bioskop, dan menangkap peluang pertumbuhan jangka panjang industri hiburan Indonesia."
Sepanjang semester I 2026, RAAM melepas kepemilikan sahamnya di PT Ciputra Multivision Nusantara sebagai bagian dari strategi alokasi modal dan penurunan utang Perseroan secara lebih luas. Dana hasil transaksi ini digunakan untuk mengurangi pinjaman bank yang masih berjalan dan diperkirakan menekan beban bunga tahunan sekitar Rp11 miliar.
Alhasil, utang bersih RAAM turun menjadi sekitar Rp304,4 miliar per Juni 2026, dari Rp403,0 miliar pada akhir Maret 2026. Rasio utang bersih terhadap ekuitas Perseroan pun membaik menjadi 24,7%, dari 31,3% pada akhir kuartal pertama.
Divestasi ini menimbulkan kerugian non-operasional yang bersifat satu kali sebesar sekitar Rp64 miliar. Dampak akuntansi ini dicatat dalam pos pendapatan dan beban lain-lain, sehingga RAAM membukukan rugi bersih sebesar Rp64,8 miliar untuk semester I 2026. Karena kerugian ini bersifat tidak berulang dan timbul dari transaksi yang justru bertujuan memperkuat neraca Perseroan, manajemen menilai kerugian ini perlu dilihat secara terpisah saat menilai kinerja dan kapasitas laba ke depan dari operasi inti RAAM.
Ke depan, RAAM tetap fokus mengonversi platform operasional yang telah diperkuat menjadi pertumbuhan laba yang berkelanjutan. Prioritas Perseroan untuk sisa tahun 2026 mencakup menjaga disiplin jadwal rilis film, memperluas jangkauan komersial pustaka kekayaan intelektualnya, mengembangkan peluang distribusi regional, serta meningkatkan produktivitas operasional bioskop dan bisnis makanan-minuman.
Perseroan memperkirakan penurunan pinjaman bank akan memberikan manfaat yang semakin terlihat dalam bentuk biaya pendanaan yang lebih rendah. Ditambah dengan membaiknya margin laba kotor dan pengelolaan biaya yang lebih ketat, hal ini diperkirakan mendukung konversi laba yang lebih kuat serta pembentukan arus kas pada periode-periode berikutnya.
Ram Jethmal Punjabi, Direktur Utama RAAM, mengatakan: "Minat masyarakat Indonesia terhadap konten produksi lokal terus tumbuh, dan performa rilis-rilis terbaru kami memperkuat keyakinan kami atas potensi jangka panjang pasar ini. RAAM memasuki semester kedua dengan momentum operasional yang lebih kuat, neraca yang lebih efisien, dan strategi yang jelas untuk mengembangkan kekayaan intelektual bernilai tinggi lewat berbagai kanal distribusi."
"Tujuan kami adalah membangun franchise dan aset pustaka konten yang terus menghasilkan nilai sepanjang siklus komersialnya, mulai dari bioskop dan distribusi regional hingga televisi, platform digital, serta peluang lisensi di masa depan." (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
