PHR UNGKAP STRATEGI JAGA ENERGI DAN PRODUKSI DI BLOK ROKAN
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
04 February 2026
03447595
IQPlus, (4/2) - Ketangguhan industri migas justru terlihat jelas ketika situasi tidak ideal terjadi.
Awal Januari lalu, pasokan gas dari pihak ketiga (TGI) terhenti, membuat sumber energi utama untuk pembangkit listrik fasilitas produksi ikut menurun drastis dan menempatkan operasi pada kondisi genting.
Dalam kondisi normal, Blok Rokan membutuhkan beban listrik sekitar 435 Megawatt (MW) agar seluruh sistem produksi berjalan optimal. Namun gangguan suplai gas eksternal membuat daya pembangkit menyusut tajam, sehingga sistem terpaksa beroperasi pada level survival di kisaran 100 MW.
Artinya, terdapat kekurangan daya hingga 335 MW. Jumlah tersebut setara dengan kebutuhan listrik sebuah kota kecil, dan bila terjadi di wilayah kerja migas tersibuk di Indonesia, konsekuensinya bisa sangat serius, mulai dari berhentinya produksi, kerusakan peralatan, hingga kegagalan memenuhi target nasional.
Situasi di Rumbai justru menunjukkan hal sebaliknya. Alih-alih kepanikan, yang terjadi adalah penerapan sistem mitigasi yang telah dirancang matang selama bertahun-tahun.
Di balik penurunan daya yang terlihat dari luar, terdapat kerja senyap berupa koordinasi antara teknologi otomatisasi dan analisis tajam para insinyur.
Pertahanan Berlapis Lewat Protokol 10 Level
"Sistem kelistrikan PHR dibangun dengan lapisan pertahanan yang kokoh," ungkap Winarto, Senior Manager Power Generation & Transmission (PGT), saat menjelaskan fondasi sistem energi di Blok Rokan.
PHR mengoperasikan Sistem Manajemen Beban yang dievaluasi secara menyeluruh minimal setiap tiga tahun.
Di dalamnya terdapat mekanisme otomatis bernama 10 Level Pemadaman atau Load Shedding yang dirancang untuk menghadapi kondisi darurat. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
