BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

PGE FOKUS PEMANFAATAN POTENSI PANAS BUMI BUAT PROYEK BERKELANJUTAN

Terbit Pada

05 August 2026

Saham Terkait

Terakhir diperbarui: 06-07-2026, 04:30:pm

21625619

IQPlus, (5/8) - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mengatakan fokus Perseroan ke depan adalah memastikan potensi sumber daya panas bumi dapat dikonversi menjadi proyek yang layak secara teknis, ekonomis, dan berkelanjutan.

"Dengan portofolio sumber daya yang besar, pipeline proyek yang matang, dan eksekusi yang disiplin, PGE optimistis mencapai target pertumbuhan kapasitas," kata Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi, di Jakarta, Selasa.

Lebih lanjut, Edwil mengatakan hal ini senada dengan momentum satu abad pengembangan panas bumi Indonesia, sejak kegiatan eksplorasi pertama kali dilakukan di Kamojang, Jawa Barat, pada 1926.

Sebagai perusahaan yang wilayah kerjanya berkontribusi sekitar 70 persen terhadap kapasitas terpasang panas bumi nasional, PGE berkomitmen menjadikan momentum satu abad tersebut sebagai titik luncur untuk memperkuat peran Indonesia sebagai salah satu produsen panas bumi terkemuka dunia.

Bertepatan dengan itu, Edwil mengatakan arah kebijakan pemerintah melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034 yang menargetkan penambahan kapasitas panas bumi sebesar 5,2 gigawatt (GW) membuka peluang percepatan pengembangan sektor panas bumi.

Saat ini, perseroan mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang 1.932 megawatt (MW), terdiri atas 727 MW yang dioperasikan langsung oleh PGE dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama.

Tiga proyek strategis PGE, yaitu PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW), Lumut Balai Unit 4 (55 MW), serta Lahendong Unit 7 dan 8 (50 MW), telah masuk dalam Green Book 2026 Kementerian PPN/Bappenas.

Status tersebut membuka peluang akses terhadap pendanaan internasional untuk mendukung percepatan pengembangan proyek.

"Sepanjang semester pertama tahun ini, kami berfokus pada empat pilar utama, yaitu commercial readiness, subsurface readiness, execution readiness, dan project funding, untuk memastikan setiap proyek berjalan optimal dan berkelanjutan," kata Edwil.

"Melalui pendekatan tersebut, kami berupaya memastikan setiap proyek memiliki tingkat kesiapan yang semakin tinggi sebelum memasuki tahap investasi maupun tahap eksekusi proyek," ujarnya menambahkan. (end)