PERMINTAAN PENYESUAIAN FUEL SURCHARGE DAN TBA AKIBAT DAMPAK KONFLIK GEOPOLITIK
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
25 March 2026
08336969
IQPlus, (25/3) - INACA sebagai asosiasi maskapai penerbangan nasional menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan, atas kerja sama dengan para pemangku kepentingan dalam menyukseskan program mudik Lebaran 2026. Kebijakan tersebut, termasuk pemberian diskon tiket pesawat, dinilai mampu menjaga operasional penerbangan tetap berjalan dengan selamat, aman, nyaman, serta terjangkau bagi masyarakat.
Namun demikian, kondisi industri penerbangan saat ini menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik antara AS-Israel dan Iran yang berdampak pada ketidakpastian ekonomi global. Situasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kedua faktor ini sangat berpengaruh terhadap peningkatan biaya operasional maskapai nasional, mengingat sebagian besar komponen biaya menggunakan dolar AS.
Sejumlah maskapai di berbagai negara juga telah melakukan penyesuaian biaya melalui penerapan fuel surcharge dengan kisaran 5% hingga 70%. Hal ini terlihat pada maskapai seperti Air India, IndiGo, Qantas, hingga Korean Air dan Ethiopian Airlines. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan biaya operasional merupakan fenomena global yang turut dirasakan industri penerbangan Indonesia.
Berdasarkan data yang dihimpun, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah meningkat signifikan. Pada 2019, saat penetapan Tarif Batas Atas (TBA), rata-rata kurs berada di level Rp14.136 per dolar AS, sedangkan pada Maret 2026 telah mencapai sekitar Rp17.000 atau naik lebih dari 20%. Dengan sekitar 70% biaya operasional maskapai menggunakan dolar AS, sementara pendapatan dalam rupiah, kondisi ini semakin membebani keuangan maskapai.
Di sisi lain, harga minyak global juga mengalami kenaikan tajam dari sekitar 70 dolar AS per galon menjadi 110 dolar AS per galon atau naik 57%. Dampaknya, harga avtur di Indonesia turut meningkat dari Rp10.442 pada 2019 menjadi sekitar Rp14.000 hingga Rp15.500 per liter pada Maret 2026, atau naik 34% hingga 48%, dengan variasi harga di setiap bandara. Kenaikan ini diperkirakan masih akan berlanjut seiring dinamika geopolitik global.
Penyesuaian harga avtur oleh Pertamina yang dilakukan setiap awal bulan juga berpotensi mendorong kenaikan lanjutan per 1 April 2026. Selain itu, maskapai yang melayani rute internasional, khususnya ke Timur Tengah dan Eropa, menghadapi tambahan biaya operasional akibat perubahan rute penerbangan untuk menghindari wilayah konflik, sehingga jarak tempuh menjadi lebih panjang.
Dampak lainnya adalah penurunan jumlah penumpang ke Timur Tengah, terutama untuk penerbangan umrah, serta potensi penurunan wisatawan mancanegara dari Eropa dan kawasan tersebut ke Indonesia. Sementara itu, dari sisi operasional, perawatan pesawat juga terdampak akibat terganggunya rantai pasok suku cadang. Waktu pengiriman yang sebelumnya 2-3 hari kini menjadi 7-10 hari, disertai peningkatan biaya logistik.
Dengan mempertimbangkan berbagai tekanan tersebut, INACA mengajukan permohonan kepada Pemerintah untuk meninjau dan menyesuaikan kebijakan, antara lain menaikkan fuel surcharge sebesar 15% dari ketentuan dalam KM 7 Tahun 2023, serta menaikkan Tarif Batas Atas (TBA) tiket penerbangan domestik sebesar 15% dari ketentuan dalam KM 106 Tahun 2019, baik untuk pesawat jet maupun propeller.
Selain itu, INACA juga mengusulkan kebijakan stimulus yang bersifat sementara, seperti penundaan PPN avtur dan tiket domestik, keringanan biaya bandara (PJP4U), serta kebijakan penjadwalan ulang pembayaran kewajiban biaya bandara dan navigasi. Langkah ini diharapkan dapat membantu menjaga keberlangsungan usaha maskapai.
Permohonan tersebut diajukan sebagai langkah antisipatif terhadap potensi kenaikan harga avtur per 1 April 2026, sekaligus untuk memastikan keberlanjutan bisnis, menjaga standar keselamatan penerbangan, serta mempertahankan konektivitas angkutan udara nasional dengan tingkat keselamatan yang tetap tinggi. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
