PEMERINTAH BAKAL TERBITKAN SBN RITEL 8 KALI TAHUN INI,TARGET Rp170 TRILIUN
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
26 January 2026
02554074
IQPlus, (26/1) - Pemerintah berencana menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) ritel sebanyak delapan kali pada tahun ini dengan target berkisar Rp150 triliun hingga Rp170 triliun.
Pelaksana Tugas Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Novi Puspita Wardani di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin, menjelaskan pemerintah umumnya tidak menetapkan angka pasti dan hanya menggunakan rentang angka untuk target penerbitan SBN.
Tahun lalu, pemerintah menargetkan angka Rp150 triliun hingga Rp170 triliun dan terealisasi sebesar Rp153 triliun.
"Tahun ini berapa? Saya sampaikan sekitar Rp150 triliun hingga Rp170 triliun," kata Novi.
Secara rinci, penawaran SBN ritel sepanjang 2026 adalah sebagai berikut:
Obligasi Ritel Negara (ORI) ORI029: 26 Januari-19 Februari 2026
Sukuk Ritel (SR) SR024: 6 Maret-15 April 2026
Sukuk Tabungan Negara (ST) ST016: 8 Mei-3 Juni 2026
ORI030: 6-30 Juli 2026
SR025: 21 Agustus-16 September 2026
SWR007: 4 September-21 Oktober 2026
SBR015: 28 September-22 Oktober 2026
ST07: 6 November-2 Desember 2026
Novi menyatakan jadwal tersebut bersifat tentatif, namun tetap bisa menjadi acuan para investor untuk mempersiapkan dana. "Jadwalnya tentatif. Tapi biasanya, kalaupun bergeser, ya geser satu-dua hari saja," tambah Novi.
Dia memastikan penawaran SBN ritel tersedia hampir sepanjang tahun, dengan jeda antar penerbitan yang relatif pendek sekitar 1 sampai 2 minggu.
Pola ini membuka ruang bagi investor untuk merencanakan pembelian secara bertahap sesuai kebutuhan likuiditas.
Selain pasar perdana, tambah Novi, investor juga dapat bertransaksi di pasar sekunder untuk seri SBN ritel yang dapat diperdagangkan (tradable).
Seri tradable seperti ORI dan Sukuk Ritel, misalnya, dapat dibeli di pasar sekunder apabila investor tidak sempat mengikuti masa penawaran di pasar perdana.
"Jadi kalau tidak dapat kesempatan pasar perdana, pasar sekunder juga bisa," tuturnya. (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
