BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

PEFINDO TEGASKAN PERINGKAT idA- UNTUK KARYA PACIFIC ENERGY

Terbit Pada

10 July 2026

Saham Terkait

Terakhir diperbarui: 22-04-2026, 03:01:pm

19039819

IQPlus, (10/7) - PEFINDO menegaskan peringkat idA- kepada PT Karya Pacific Energy Tbk (IATA) dan Obligasi Berkelanjutan I, serta peringkat idA-(sy) untuk Sukuk Wakalah Berkelanjutan I. Prospek untuk peringkat Perusahaan adalah stabil.

Peringkat mencerminkan cadangan dan sumber daya tambang yang cukup besar, profil biaya yang rendah, serta sinergi dengan Grup. Peringkat dibatasi oleh profil keuangan yang moderat, paparan terhadap risiko perubahan regulasi, serta paparan terhadap harga komoditas yang berfluktuasi dan risiko terhadap isu lingkungan.

Surat utang yang diterbitkan IATA, yaitu Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2023 Seri B senilai Rp149,83 miliar dan Sukuk Wakalah Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2023 Seri B senilai Rp49,3 miliar, akan jatuh tempo pada 6 Oktober 2026.

Perusahaan berencana melunasi surat utang yang akan jatuh tempo tersebut menggunakan dana internal. Per Maret 2026, IATA mencatat kas dan setara kas senilai USD3 juta dan investasi senilai USD19,77 juta.

Peringkat dapat dinaikkan apabila IATA berhasil memperbesar skala bisnisnya yang tercermin dari kenaikan produksi batu bara secara signifikan pada tambang PT Putra Muba Coal (PMC) dan PT Arthaco Prima Energy (APE) yang dapat memperkuat profil keuangan Perusahaan. Bisnis yang lebih terdiversifikasi juga dapat berdampak positif terhadap peringkat IATA. Peringkat dapat diturunkan apabila IATA membukukan pendapatan atau EBITDA jauh di bawah target yang disebabkan oleh penurunan produksi batu bara, atau apabila Perusahaan membukukan utang lebih dari yang diproyeksikan, yang dapat memperburuk profil keuangan. Peringkat juga dapat berada dalam tekanan apabila harga batu bara menurun secara signifikan, yang akan berdampak negatif pada kondisi keuangan Perusahaan.

Awalnya didirikan dengan nama PT Indonesia Transport & Infrastructure, IATA merupakan bagian dari Karya Pacific Investama dan berfokus pada industri tambang batu bara. Saat ini, Perusahaan mengoperasikan tiga tambang yang berlokasi di Sumatra Selatan di bawah PT Putra Muba Coal, PT Indonesia Batu Prima Energi, dan PT Arthaco Prima Energy. Per 31 Maret 2026, pemegang saham IATA adalah PT Karya Pacific Investama (48,79%), PT MNC Asia Holding Tbk (10,23%), dan publik (40,98%). (end)