BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    OPEN SOURCE PERKUAT KEDAULATAN DIGITAL, BUKA PELUANG TALENTA MUDA

    Kategori

    Ekonomi Bisnis

    Terbit Pada

    29 April 2026

    11827142

    IQPlus, (29/4) - Upaya memperkuat kedaulatan digital Indonesia kian mengarah pada pemanfaatan teknologi open source dan cloud lokal. Pendekatan ini tidak hanya mendorong kemandirian pengelolaan data dan sistem, tetapi juga berpotensi menekan biaya lisensi sekaligus membuka peluang pengembangan talenta digital muda.

    Hal itu mengemuka dalam ajang Cloud Regional Open Source Summit (CROSS) Indonesia 2026 yang digelar di Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJAYA), Gamping, Sleman, Yogyakarta, pada Sabtu 25 April 2026.

    Mengusung tema "Mendorong Kedaulatan Digital Indonesia melalui Open Source", forum ini menempatkan teknologi terbuka sebagai fondasi untuk memperkuat kemandirian data, keamanan siber, dan tata kelola digital yang transparan.

    Ryo Ardian dari Cloud in Asia mengatakan penguatan ekosistem cloud nasional membutuhkan kolaborasi lintas sektor. "Kolaborasi antara industri, kampus, dan komunitas menjadi kunci dalam membangun ekosistem cloud nasional yang berdaulat dan berkelanjutan," kata Ryo.

    Senada CEO Sivali Cloud Technology, Wong Sui Jan, menuturkan open source menjadi pendekatan strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap platform teknologi tertutup.

    "Dengan open source, institusi memiliki kontrol lebih besar terhadap infrastruktur dan data. Ini penting untuk memastikan keamanan, efisiensi, dan kemandirian sistem digital," ujar Sui Jan yang juga merupakan Ketua Komtap Open Source DPP APTIKNAS.

    Acara ini turut dihadiri pendiri Onno Center dan pakar internet, Prof. Onno W. Purbo dan Wakil Dekan 2 Fakultas Teknik dan Teknologi Informasi Unjaya Chanief Budi Setiawan.

    Begitu pula hadir para praktisi TI dan pegiat open source termasuk Komunitas Ubuntu Indonesia yang dipimpin Ketua Umum Veros Muhamed dan juga M Alif Ramadhan dari Komunitas IMPHNEN.

    Onno menjelaskan, dalam pengembangan teknologi terdapat tiga pilar utama, yaitu people, process, dan technology. Dari ketiganya, aspek teknologi seringkali menjadi beban karena ada biaya lisensi.

    "Kalau ada anggaran untuk lisensi, kenapa tidak kita alihkan untuk mendanai startup? Anak-anak muda kita bisa berkembang," ujarnya.

    Dia juga perlu mengkritisi anggapan umum bahwa open source tidak kompatibel dengan perangkat yang beredar di pasaran. Ia mencontohkan sistem operasi Android yang digunakan hampir semua smartphone saat ini.

    "Android itu open source. Artinya, perangkat yang kita pakai sehari-hari sebenarnya sudah berbasis open source," jelasnya.

    Adapun Chanif mengatakan kampus memiliki tanggung jawab tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga melahirkan inovasi, membangun kolaborasi, dan menjadi penggerak utama dalam transformasi digital berbasis kemandirian.

    "Kami percaya bahwa sinergi antara akademisi, pemerintah, industri, dan komunitas open source adalah kunci dalam menciptakan solusi digital yang tepat guna bagi Indonesia," ujarnya.

    Forum ini menyoroti sejumlah fokus utama, di antaranya penguatan kedaulatan data di sektor pemerintah, pendidikan, dan industri teregulasi. Institusi didorong untuk mengelola infrastruktur secara mandiri menggunakan teknologi seperti Ubuntu, OpenStack, dan Kubernetes, guna memastikan kontrol atas lokasi data, privasi, serta kepatuhan terhadap regulasi di Indonesia.

    CROSS 2026 juga menekankan pentingnya dukungan terhadap agenda kedaulatan digital nasional, sejalan dengan berbagai kebijakan pemerintah termasuk dari Kementerian Komunikasi dan Digital, serta implementasi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) No. 27 Tahun 2022 . Salah satu dorongan utama adalah migrasi dari platform cloud proprietary menuju sistem terbuka yang dapat dikelola secara lokal.

    Perlu Dukungan Kompetensi Tersertifikasi

    Pada sesi Talkshow, Dedy Hariyadi, dosen dan Sekretaris Program Studi Teknologi Informasi (Cybersecurity) FTTI Unjaya mengatakan, dari sudut mahasiswa maka open source merupakan media belajar karena deskripsi jelas, dokumentasi terbuka dan pilihannya lebih beragam.

    "Apalagi open source juga terjangkau. Murah tetapi tidak murahan. Di open source kita bisa berdaya bareng-bareng, antar praktisi berkolaborasi. Mulai titik ini, mulai hari ini mari berdaya bersama," ujar Dedy.

    Selain Dedy, pemateri lainnya ialah dari para talenta digital muda seperti Farah Sahira dan Andre Daegal. Keduanya merupakan generasi Z yang sudah berkarier di industri open source dan cloud.

    Farah Zahira memaparkan pertumbuhan komputasi awan dan adopsi open source di Indonesia tidak hanya mempercepat transformasi digital, tetapi juga mendorong penguatan industri dan dunia usaha lintas sektor. Lebih lanjut, imbuh alumni Binus ASO School of Engineering ini, diperlukan dukungan kemampuan talenta muda untuk mengembangkan infrastruktur digital secara berkelanjutan.

    "Sebagai bagian dari penguatan ekosistem, Canonical selaku pengembang sistem operasi Ubuntu menghadirkan Canonical Academy yakni platform pelatihan dan sertifikasi resmi yang dirancang untuk menjawab kebutuhan industri," ujar dia yang akrab disapa Safira ini.

    Di sesi lainnya, sorotan tentang kedaulatan infrastruktur digital menjadi inti paparan Andre Daegal. Untuk mewujudkannya, membutuhkan sinergi ekosistem mandiri melalui kolaborasi lintas instansi.

    "Diperlukan upaya yang disebut federasi cloud yakni interkoneksi komputasi dari berbagai provider berbeda untuk menciptakan ekosistem kolaboratif, tanpa membuat institusi kehilangan kontrol dan dapat interoperabel secara aman," ujarnya.

    Dia juga merujuk pada Permen Komdigi nomor 6 tahun 2025 mengenai Standar Teknis dan Prosedur Pembangunan dan Pengembangan Aplikasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Beleid itu menegaskan pengutamaan kode sumber terbuka atau open source, kewajiban interoperabel atau berhubungan antarsistem dan penerapan cloud mandiri.

    Untuk mendukung implementasi kebijakan tersebut, diperlukan perangkat lunak penghubung seperti Orcastra yang mampu mengintegrasikan berbagai server di sejumlah lokasi agar dapat beroperasi secara terpadu.

    Upaya ini memungkinkan pengelolaan infrastruktur cloud yang lebih aman dan terkendali. Solusi ini merupakan karya talenta muda Indonesia sebagai kontribusi dalam memperkuat kedaulatan digital nasional.

    Ajang CROSS atau Cloud Regional Open Source Summit (CROSS) Indonesia 2026 digelar oleh Onno Center bersama Cloud in Asia dan UNJAYA, serta didukung oleh Sivali Cloud Technology. Forum ini juga mengintegrasikan dua agenda utama, yakni Open Source Summit dan Ubuntu Release Party.

    Dari forum ini, kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu mempercepat terbentuknya ekosistem cloud nasional yang mandiri, sekaligus memperluas peran talenta muda dalam pembangunan infrastruktur digital Indonesia. CROSS 2026 juga merupakan lanjutan dari perhelatan Sahabat Ubuntu Indonesia beberapa waktu lalu.(end)