BCA Sekuritas
langen
Daily News

OJK DORONG PENINGKATAN LITERASI KEUANGAN MENGIMBANGI INKLUSI DIGITAL

Category

Business Economics

Published On

31 July 2026

21125995

IQPlus, (31/7) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong peningkatan literasi keuangan agar mampu mengimbangi pesatnya inklusi keuangan digital untuk memastikan masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap layanan keuangan digital, tetapi juga mampu memahami manfaat dan risiko penggunaannya.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK Adi Budiarso mengatakan hingga saat ini indeks inklusi keuangan nasional telah mencapai sekitar 85 persen, sedangkan indeks literasi keuangan masih berada di kisaran 65 persen.

"Kita ingin literasi dan inklusi itu harusnya sama supaya akses pada finance atau pada digitalisasi saat ini sudah begitu marak, itu harus diikuti juga dengan literasi yang memadai. Supaya tidak terekspos pada risiko yang berlebihan," kata Adi dalam diskusi mengenai alternative credit scoring untuk UMKM, di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, peningkatan pemanfaatan layanan keuangan digital harus dibarengi dengan pemahaman masyarakat mengenai berbagai risiko, mulai dari kejahatan siber, penipuan, hingga berbagai tindak pidana di sektor keuangan yang dapat mengancam keberlanjutan usaha maupun kondisi keuangan masyarakat.

Selain meningkatkan literasi keuangan, OJK juga mendorong penguatan produktivitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui pengembangan kewirausahaan, kepemimpinan, digitalisasi usaha, serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Adi mengatakan OJK telah menjalin sinergi dengan sejumlah kementerian, antara lain Kementerian Komunikasi dan Digital serta Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, untuk mengembangkan berbagai program pendampingan bagi pelaku usaha dalam peningkatan akses kepada AI, khususnya segmen ultra mikro.

Ia menambahkan, perkembangan teknologi digital juga membuka peluang yang semakin luas bagi masyarakat untuk mengakses tabungan, pembiayaan, hingga instrumen investasi dengan nilai yang lebih terjangkau.

"Ke depan, masyarakat dapat mengakses berbagai inovasi keuangan, termasuk investasi berbasis aset digital dan teknologi blockchain, sehingga semakin banyak masyarakat yang dapat berpartisipasi dalam sektor keuangan formal," katanya.

Di sisi lain, OJK juga terus mengembangkan inovasi di sektor keuangan digital, termasuk alternative credit scoring bersinergi dengan Women's World Banking sebagai upaya memperluas akses pembiayaan bagi UMKM yang belum memiliki riwayat kredit di lembaga keuangan.

Adi menilai pendekatan tersebut penting mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia masih berada pada kelompok underbanked maupun sektor informal yang belum memanfaatkan layanan keuangan secara optimal. (end)