KOLABORASI KEMENPERIN BERSAMA SWISS-JERMAN WUJUDKAN SDM INDUSTRI BERSTANDAR GLOBAL
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
21 July 2026
20154685
IQPlus, (21/7) - Guna menjaga konsistensi kinerja sektor industri manufaktur yang menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, Kementerian Perindustrian fokus meningkatkan produktivitas industri manufaktur nasional melalui program pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan berdaya saing global. Langkah strategis ini sekaligus menjadi program prioritas pemerintah dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan, saat ini diperlukan SDM industri adaptif, inovatif, serta berkarakter pembelajar. Hal ini seiring dengan penerapan transformasi digital, pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi, transisi ekonomi hijau, hingga dinamika rantai pasok global.
"Karena itu, penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi prioritas nasional dan merupakan fondasi utama pembangunan SDM industri yang kompeten," kata Menperin dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (21/7).
Dalam mewujudkan komitmen tersebut, Kemenperin melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) aktif menjalin kerja sama dengan Pemerintah Swiss-melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO) dan Swisscontact, serta Pemerintah Jerman melalui Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH. Kolaborasi ini diarahkan untuk mengakselerasi standar kompetensi SDM industri nasional ke tingkat global.
Sinergi di sektor pendidikan vokasi ini sekaligus memperkokoh rekam jejak kemitraan strategis yang telah terbangun lama. Hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss telah terjalin kokoh sejak 1951, sementara hubungan bilateral dengan Jerman terjalin sejak 1952.
Di sektor SDM industri, BPSDMI Kemenperin secara konsisten menggandeng kedua negara mitra tersebut sejak tahun 2018. Kerja sama ini diwujudkan melalui program Skills for Competitiveness (S4C) bersama SECO, serta dukungan GIZ Jerman dalam reformasi sistem pendidikan dan pelatihan vokasi (TVET System Reform) di tanah air. Komitmen jangka panjang ini kini berlanjut melalui program S4C Fase 2 bersama Swisscontact, serta program Green Jobs for Social Inclusion and Sustainable Transformation (GESIT) pendampingan GIZ.
Kepala BPSDMI Doddy Rahadi menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir, kolaborasi strategis tersebut telah memberikan dampak nyata bagi pengembangan ekosistem pendidikan vokasi industri di Indonesia. Dampak positif ini mencakup penyediaan hibah peralatan praktik modern di unit pendidikan, peningkatan kapasitas ribuan tenaga pendidik serta peserta didik, hingga penguatan kelembagaan dan perangkat yang sesuai dengan standar manufaktur terkini.
"Yang tidak kalah penting, kita berhasil membangun sebuah budaya baru, yaitu budaya kolaborasi. Sekolah dan industri tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri; keduanya harus menjadi mitra yang setara dalam mencetak talenta masa depan," ujar Doddy.
Ia menambahkan, BPSDMI terus memperluas kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) melalui pemantapan sistem pendidikan ganda (dual system), pelatihan bagi instruktur tempat kerja (In-Company Trainer), penguatan Pusat Pengembangan Karir (Career Development Center), serta digitalisasi layanan vokasi. Seluruh langkah ini difokuskan untuk menggenjot tingkat penyerapan lulusan agar langsung terserap di rantai pasok manufaktur. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
