BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

KEMENPERIN PACU IKM FESYEN DAN KRIYA NAIK KELAS

Kategori

Ekonomi Bisnis

Terbit Pada

23 July 2026

20352485

IQPlus, (23/7) - Di tengah dinamika ekonomi global, sektor industri fesyen dan kriya nasional mampu mempertahankan kinerja positif melalui peningkatan produktivitas dan inovasi, serta adaptif terhadap perubahan pasar dan kebutuhan konsumen. Penguatan kapasitas sumber daya manusia, inovasi bisnis, dan jejaring kolaborasi menjadi faktor penting agar IKM fesyen dan kriya untuk tumbuh secara berkelanjutan dan menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional maupun pasar global.

Sejalan dengan hal tersebut, Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (Ditjen IKMA) menyelenggarakan Kick Off Program Creative Business Incubator (CBI) 2026 pada Senin, (20/7) secara daring.

Program yang dilaksanakan oleh Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) ini merupakan salah satu program pembinaan yang dirancang untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan sektor fesyen dan kriya melalui pembelajaran terstruktur yang meliputi penyampaian materi, penugasan mandiri, evaluasi, dan business pitching dengan melibatkan akademisi serta praktisi yang kompeten di bidang fesyen dan kriya.

"Pemerintah terus menghadirkan berbagai program pembinaan yang mampu memperkuat kapasitas pelaku IKM agar dapat tumbuh, naik kelas, dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional," ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (20/7).

Menperin Agus mengatakan tantangan yang dihadapi saat ini bukan hanya menciptakan wirausaha baru, tetapi juga memastikan pelaku IKM mampu berkembang menjadi usaha yang produktif, inovatif dan berkelanjutan. "Diperlukan penguatan rantai pasok lokal yang terintegrasi sehingga IKM dapat saling terhubung, meningkatkan penggunaan bahan baku dan jasa dari dalam negeri, serta menjadi bagian dari ekosistem industri yang mampu menghasilkan nilai tambah lebih besar," ungkap Agus.

Agus menambahkan, keberhasilan pengembangan wirausaha juga ditentukan oleh kualitas pendampingan yang diberikan kepada pelaku usaha. Berdasarkan kajian, mentorship berperan penting dalam meningkatkan kompetensi teknis sekaligus membentuk karakter wirausaha yang tangguh, mandiri, dan inovatif.

"Program pendampingan bukan sekadar pelengkap. Mentorship menjadi kebutuhan penting bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis, memperkuat karakter kewirausahaan, sekaligus menjadi mitra diskusi dalam menghadapi tantangan bisnis, khususnya pada tahap awal pengembangan usaha," ucap Agus.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Reni Yanita menjelaskan bahwa kinerja industri fesyen dan kriya hingga Triwulan I Tahun 2026 menunjukkan tren yang positif. Nilai PDB sektor fesyen dan kriya mencapai Rp120,13 triliun, meningkat 7,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan sektor ini juga meningkat dari 2,43 persen pada tahun 2024 menjadi 4,93 persen pada tahun 2025, yang menunjukkan bahwa industri fesyen dan kriya terus memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan industri nasional.

Reni juga menyampaikan adanya kinerja positif dari capaian ekspor industri fesyen dan kriya nasional pada awal tahun 2026, pada periode Januari - April 2026, nilai ekspor industri kriya mencapai USD 228 juta, industri fesyen pakaian jadi sebesar USD 2,78 miliar, dan industri tekstil sebesar USD 1,04 miliar.

"Capaian tersebut menjadi peluang bagi IKM fesyen dan kriya untuk terus meningkatkan kualitas produk, kapasitas usaha, serta memperluas akses pasar sehingga mampu naik kelas dan menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional maupun pasar global," ujar Reni. (end)