BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

KEMENPERIN GAUNGKAN PELESTARIAN BATI ASLI DALAM PUSPA NUSWANTARA 2026

Kategori

Ekonomi Bisnis

Terbit Pada

14 July 2026

19435142

IQPlus, (14/7) - Kementerian Perindustrian mendukung upaya Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) dan Yayasan Batik Indonesia dalam menjaga dan melestarikan salah satu warisan budaya tak benda yang telah diakui dunia, yaitu batik buatan perajin Indonesia. Kementerian Perindustrian terus menggaungkan pentingnya pemahaman konsumen untuk membedakan batik yang otentik, di tengah banjirnya produk tekstil bermotif batik di pasar. Salah satunya yaitu melalui dukungan terhadap Pagelaran Seni Batik Indonesia Puspa Nuswantara 2026 yang diselenggarakan oleh APPBI pada 8-12 Juli 2026 di Jakarta International Convention Center, Senayan, Jakarta.

Tujuan Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara ini selaras dengan tugas Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka untuk melindungi keaslian batik sekaligus mendorong pelaku IKM batik agar semakin naik kelas. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, minat generasi muda terhadap fesyen berbasis wastra terus tumbuh sehingga batik tidak lagi dipandang sebagai busana yang kaku dan formal, melainkan jadi bagian gaya hidup sehari-hari.

"Saat ini industri batik terus menunjukkan tren positif, baik di pasar domestik maupun internasional. Ekspornya meningkat dan generasi muda semakin bangga menggunakan batik yang mencerminkan identitas budaya bangsa," ungkap Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Rabu (8/7).

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, nilai ekspor produk batik pada tahun 2025 mencapai US$30,62 juta atau meningkat 13,03 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$26,63 juta. Kendati demikian, di balik perkembangan ini, industri batik juga juga dihadapkan pada tantangan semakin maraknya kain printing bermotif batik yang beredar luas di pasar.

"Produk tersebut umumnya dipasarkan dengan harga yang jauh lebih murah dan dapat diproduksi secara massal dalam waktu singkat, sehingga berpotensi menggeser posisi batik asli, baik dari sisi pasar maupun apresiasi masyarakat terhadap nilai budaya yang dikandungnya," ungkap Agus.

Padahal, lanjut Agus, konsumen dapat dengan mudah membedakan batik asli dengan kain atau tekstil motif batik dengan sederhana. Adapun batik asli, baik batik tulis maupun batik cap, dibuat melalui proses perintangan warna menggunakan malam (lilin), sehingga motif yang dihasilkan akan tembus hingga ke bagian belakang kain dan warnanya dapat sedikit berbeda antara satu sisi dengan sisi lainnya.

"Batik asli umumnya memiliki aroma khas malam, garis motif yang tidak selalu presisi karena dikerjakan secara manual, serta harga yang mencerminkan waktu dan keterampilan pengerjaannya," ungkap Agus.

Agus menilai, pemahaman mengenai perbedaan batik asli atau otentik buatan perajin dengan kain bermotif batik ini penting untuk terus disosialisasikan kepada masyarakat agar konsumen dapat membuat pilihan yang tepat dalam membeli batik yang otentik sehingga perajin batik memperoleh apresiasi yang semestinya. Kain printing memiliki motif yang hanya tercetak pada satu sisi permukaan kain, warna yang lebih rata dan seragam, garis motif yang sangat rapi karena dicetak dengan mesin, serta umumnya dijual dengan harga yang jauh lebih terjangkau. (end)