KADIN NILAI TEKANAN GEOPOLITIK MEREDA DISERTAI SENTIMEN POSITIF KE RI
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
17 July 2026
19735547
IQPlus, (17/7) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai mulai meredanya tekanan geopolitik global turut disertai sentimen positif terhadap Indonesia.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menyampaikan sepanjang kuartal II 2026 dunia usaha menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian geopolitik akibat konflik di Timur Tengah, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kepastian regulasi, daya beli masyarakat, hingga kenaikan biaya energi.
Menurutnya dalam keterangan resmi diterima dan dikutip di Jakarta, Jumat, Indonesia tengah memasuki fase transformasi ekonomi dari berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis sumber daya manusia.
Ini merupakan hasil dari survei Kadin Business Pulse pada kuartal II 2026 yang merupakan instrumen yang secara rutin diterbitkan setiap kuartal untuk memotret kondisi dunia usaha sekaligus menjadi masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi.
"Indonesia sedang bertransformasi dari natural resources based menjadi human resources based. Dalam setiap transisi tentu ada tantangan, sehingga kita harus menyiapkan peningkatan kualitas SDM," kata Anindya.
Anin, sapaan akrabnya, menyampaikan Business Pulse menjadi dashboard bagi dunia usaha untuk melihat berbagai indikator perekonomian, mulai dari kondisi bisnis, regulasi, birokrasi, kebijakan pemerintah, hingga daya beli masyarakat.
Survei tersebut juga mencakup pelaku usaha dari berbagai skala, mulai dari usaha mikro, kecil, menengah (UMKM), hingga perusahaan besar.
Lebih lanjut, Anin menilai perhatian investor global terhadap Indonesia kini tidak lagi berfokus pada besarnya potensi ekonomi, melainkan pada kemampuan Indonesia dalam merealisasikan berbagai kebijakan.
Menurut dia, kondisi tersebut justru mendorong Kadin untuk semakin aktif turun ke berbagai daerah guna memperkuat komunikasi dengan pelaku usaha sekaligus menyampaikan berbagai informasi dan advokasi kebijakan.
Anin menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah berbagai tantangan global. Ia optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat bertahan di kisaran 5 persen pada 2026.
"Inflasi juga terjaga dan rasio utang terhadap PDB merupakan salah satu yang terbaik di G20," ucap Anin.
Di sisi lain, Anin menilai dunia usaha perlu beradaptasi terhadap tatanan ekonomi global yang baru (new equilibrium). Kondisi tersebut harus dihadapi secara realistis dengan tetap menjaga optimisme.
"Ini adalah equilibrium baru. Kita tentu menginginkan rupiah menguat dan suku bunga turun, tetapi kita juga harus melihat kondisi apa adanya dengan kepala dingin. Biasanya setelah satu hingga tiga tahun, ketika kepercayaan kembali, situasi akan berbalik arah," ujar Anin.
Oleh karena itu, Anin mendorong pelaku usaha terus melakukan efisiensi, mempercepat adopsi teknologi, menjaga lapangan kerja, serta memperluas pasar ekspor melalui pemanfaatan berbagai perjanjian perdagangan internasional. (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
