BCA Sekuritas
langen
Daily News

HDIT TEGASKAN DIVESTASI DOEKU BUKAN KELUAR DARI BISNIS FINTEC

Published On

03 July 2026

Related Stocks

Latest update: 14-08-2026, 03:11:pm

18350201

IQPlus, (3/7) - PT Hensel Davest Indonesia Tbk (HDIT) menegaskan bahwa keputusan melepas seluruh kepemilikan saham atau 100% saham pada PT Doeku Peduli Indonesia merupakan bagian dari strategi penataan portofolio usaha, bukan sebagai langkah mengurangi komitmen Perseroan di sektor teknologi finansial (fintech).

Manajemen HDIT menjelaskan, divestasi tersebut dilakukan untuk mempertajam fokus pada lini bisnis inti yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan dan nilai tambah yang lebih optimal bagi Perseroan dalam jangka panjang.

Ke depan, HDIT akan memusatkan pengembangan bisnis pada layanan uang elektronik, pembayaran digital, optimalisasi platform Davestpay, serta pengembangan layanan QRIS Merchant Presented Mode (MPM) sebagai acquirer.

Menurut Perseroan, fokus baru tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat alokasi sumber daya, sekaligus menjaga struktur keuangan yang lebih sehat dan terukur.

Perseroan menegaskan bahwa divestasi PT Doeku Peduli Indonesia tidak mencerminkan pengurangan komitmen terhadap industri fintech. Sebaliknya, HDIT tetap berkomitmen mengembangkan ekosistem teknologi finansial dengan pendekatan yang lebih selektif.

Strategi tersebut diarahkan pada penguatan layanan pembayaran digital dan uang elektronik yang dinilai selaras dengan arah pengembangan bisnis Perseroan di masa mendatang.

Di sisi kinerja keuangan, HDIT membukukan pendapatan neto sebesar Rp18,48 miliar sepanjang 2025. Realisasi tersebut turun 42,48% dibandingkan pendapatan tahun 2024 yang mencapai Rp32,13 miliar.

Manajemen menjelaskan bahwa penurunan pendapatan mencerminkan tekanan terhadap aktivitas operasional serta kontribusi sejumlah lini bisnis selama periode berjalan.

Meski demikian, Perseroan berhasil memperbaiki kinerja laba dengan menekan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp15,01 miliar pada 2025, dari Rp18,87 miliar pada tahun sebelumnya.

Perbaikan rugi bersih sekitar 20,42% tersebut didorong oleh berbagai langkah efisiensi operasional, pengendalian biaya, serta evaluasi portofolio usaha yang dilakukan secara berkelanjutan sepanjang tahun.

Direksi memandang tahun 2025 sebagai periode konsolidasi sekaligus penataan fundamental perusahaan. Fokus Perseroan pada tahap berikutnya adalah meningkatkan aktivitas transaksi, memperkuat monetisasi layanan digital, meningkatkan efisiensi biaya, serta mengarahkan sumber daya pada lini usaha yang memiliki prospek pertumbuhan lebih baik.

Meski belum menetapkan target profitabilitas secara spesifik dalam paparan publik, manajemen menegaskan seluruh strategi yang dijalankan akan berorientasi pada perbaikan kinerja yang terukur, berkelanjutan, dan mendukung pertumbuhan bisnis digital Perseroan di masa depan. (end)