HARGA MINYAK NAIK JUMAT KARENA SPEKULASI AKSES SELAT HORMUZ
Share via
Kategori
Komoditi
Terbit Pada
07 August 2026
21828720
IQPlus, (7/8) - Harga minyak kembali naik pada hari Jumat di tengah kekhawatiran seputar akses ke Selat Hormuz, menyusul langkah Iran yang bekerja sama dengan Oman untuk mengusulkan pelarangan kapal-kapal yang dianggap bermusuhan melintasi selat tersebut serta pengenaan denda berat bagi pelanggar aturan yang diusulkan itu.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 99 sen, atau 1,2%, menjadi $83,48 per barel pada pukul 00.10 GMT. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 85 sen, atau 1,1%, menjadi $78,84.
Harga minyak berjangka ditutup naik lebih dari $3 per barel pada hari Kamis saat Iran meninjau rancangan undang-undang untuk melarang kapal-kapal AS dan Israel melintasi Selat Hormuz jalur yang dilewati sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia sebelum perang pecah pada akhir Februari.
Harga sempat turun di awal pekan karena adanya harapan akan solusi bagi konflik yang sedang berlangsung, namun harga acuan Brent kembali menembus level $80 pada hari Kamis setelah sempat turun di bawah angka tersebut untuk pertama kalinya sejak 13 Juli.
"Pasar sudah pernah melihat setidaknya satu kesepakatan yang hanya bertahan singkat pada awal tahun ini, sehingga keyakinan bahwa kesepakatan baru akan sepenuhnya memulihkan lalu lintas kapal tanker seperti sedia kala masih rendah," ujar Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade, seraya mencatat bahwa sikap skeptis tersebut telah menahan penurunan harga lebih lanjut.
Menurut kantor berita Fars, seorang anggota parlemen Iran menyatakan bahwa sebuah komite parlemen sedang meninjau rancangan awal undang-undang untuk melarang kapal-kapal AS, Israel, dan kapal lain yang dianggap bermusuhan melintasi Selat Hormuz, serta mengenakan denda hingga 20% dari nilai kargo bagi pelanggar aturan pembatasan tersebut.
Iran mengupayakan pengenaan biaya antara 5% hingga 7% dari nilai kargo bagi kapal-kapal yang melintasi selat tersebut, menurut pejabat senior Iran itu. Oman sedang membahas besaran biaya sekitar 3%, sementara Washington menginginkan agar tidak ada biaya sama sekali.
Empat sumber industri menyatakan bahwa kesepakatan yang diusulkan tersebut sulit untuk diterapkan karena adanya sanksi AS dan klausul asuransi yang membatasi segala bentuk pembayaran. Sementara itu, kelompok Houthi Yaman menyatakan telah melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap "posisi pasukan Arab Saudi" di Marib dan Hadramout, Yaman, pada hari Kamis.
Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis mengatakan kepada para wartawan bahwa ia yakin perang tersebut akan segera berakhir. (end/Reuters)
