GENJOT EKSPANSI, GULA RAMPUNGKAN PABRIK GULA MERAH DENGAN CAPEX RP40,2 MILIAR
Share via
Terbit Pada
20 July 2026
Saham Terkait
Terakhir diperbarui: 21-07-2026, 11:01:am
20050000
IQPlus, (20/7) - Emiten produsen gula, PT Aman Agrindo Tbk (GULA), tengah bersiap memperkuat ekspansi bisnisnya di tahun 2026. Perseroan memfokuskan sebagian besar alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) dan sisa dana hasil Initial Public Offering (IPO) untuk merampungkan proyek strategis operasional pabrik gula merah baru yang dijadwalkan mulai beroperasi pada paruh kedua tahun ini.
Direktur Utama PT Aman Agrindo Tbk, Andreas Utomo, mengungkapkan optimisme perseroan terhadap prospek bisnis gula nasional seiring dengan bergulirnya sejumlah strategi ekspansi terukur. Perseroan menargetkan total penjualan atau pendapatan dapat menyentuh angka Rp336,37 miliar pada tahun buku 2026 atau naik sekitar 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Target perseroan di tahun 2026 ini didukung oleh berbagai strategi strategis, di antaranya pengembangan area pemasaran dan penjualan, penguatan kemitraan dengan pelanggan lama, serta penjajakan aktif terhadap pelanggan baru. Kami juga berupaya memenangkan persaingan pasar dengan menyasar segmen UKM dan retail melalui penawaran kuantitas yang lebih fleksibel namun tetap dengan harga yang bersaing," ujar Andreas Utomo dalam keterangan yang diterima, Senin 20 Juli 2026.
Selain mematok target penjualan yang agresif, GULA juga membidik raihan Laba Bruto sebesar Rp55,83 miliar, Laba Usaha senilai Rp46,92 miliar, serta Laba Neto sebesar Rp36,90 miliar hingga akhir tahun 2026. Sebagai gambaran kinerja terkini, pada Kuartal I-2026 perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp40,9 miliar dan laba usaha Rp2 miliar, sebuah capaian pertumbuhan yang diklaim meningkat jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Guna memuluskan target pertumbuhan tersebut, fokus operasional utama manajemen saat ini tertuju pada penyelesaian pembangunan pabrik gula merah. Emiten yang berbasis di Semarang ini memperkirakan fasilitas produksi teranyar tersebut akan mulai beroperasi secara komersial pada Semester II-2026.
Langkah operasional ini ditopang penuh oleh realisasi penggunaan dana hasil IPO saham yang diperoleh sejak Agustus 2022 lalu. Berdasarkan laporan resmi korporasi, realisasi penyerapan dana bersih hasil penawaran umum telah berjalan optimal mendekati 100%. Dari total dana IPO bersih yang dialokasikan, perseroan telah merealisasikan Rp10,17 miliar untuk pembangunan pabrik dan fasilitas lainnya (dari rencana semula Rp11,39 miliar). Sementara itu, alokasi untuk pembelian dan instalasi mesin sebesar Rp28,88 miliar serta modal kerja sebesar Rp10,06 miliar telah terealisasi sepenuhnya atau mencapai 100% dari rencana prospektus.
Secara akumulatif, total anggaran belanja modal (capex) yang disiapkan untuk pos pabrik baru ini mencapai Rp40,2 miliar. Per Mei 2026, dana yang telah diserap dan dibelanjakan telah menembus Rp39 miliar, sehingga sisa komitmen dana capex yang belum dikerahkan tinggal menyisakan Rp1,2 miliar saja. Sisa dana IPO sebesar Rp1,21 miliar saat ini ditempatkan dengan aman pada instrumen perbankan di PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sebagai pihak ketiga.
Kendati demikian, manajemen mengakui ada sejumlah tantangan eksternal yang membayangi penyelesaian proyek ini. Fluktuasi makroekonomi, khususnya pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS (USD), berimbas pada operasional pengadaan aset perseroan.
"Kendala utama yang dihadapi di lapangan adalah dinamika proses impor mesin pengolahan gula merah. Mengingat transaksi pembelian mesin dilakukan dalam denominasi USD, pelemahan nilai tukar Rupiah memberikan dampak berupa pembengkakan biaya (cost overruns) dari estimasi awal. Namun, manajemen terus melakukan mitigasi ketat agar pabrik tetap dapat commissioning tepat waktu di paruh kedua tahun ini," pungkas Andreas. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
