BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    EFISIENSI MESIN DAN EKSPOR JADI KUNCI YPAS TINGGALKAN ZONA MERAH

    Terbit Pada

    14 April 2026

    Saham Terkait

    Terakhir diperbarui: 08-04-2026, 09:51:am

    10355417

    IQPlus, (14/4) - Emiten produsen kemasan, PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS), berhasil mencatatkan pembalikan kinerja keuangan yang signifikan pada tahun buku 2025. Perseroan membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp5,5 miliar, melonjak drastis dibandingkan periode sebelumnya yang masih mencatat rugi usaha sebesar Rp4,3 miliar.

    Direktur Keuangan YPAS, Rinawati, menjelaskan bahwa pencapaian laba tersebut didorong oleh harga bahan baku yang lebih stabil dan cenderung lebih rendah sepanjang tahun 2025 dibandingkan tahun 2024. Selain faktor harga komoditas, efisiensi internal menjadi kunci utama keberhasilan perseroan.

    "Kami melakukan peremajaan mesin-mesin sehingga produktivitas menjadi lebih efektif dan tercipta efisiensi biaya," ujar Rinawati dalam keterbukaan informasi, Selasa (14/4/2026). Perseroan juga mulai memetik hasil positif dari strategi diversifikasi ke pasar ekspor guna mengompensasi tekanan pada pasar domestik.

    Tantangan Makroekonomi dan Dampak Geopolitik

    Meski mencetak performa positif di tahun 2025, YPAS mengakui adanya tantangan besar dari kondisi makroekonomi saat ini. Lonjakan harga bahan baku dan gangguan rantai pasok global-yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah telah menyebabkan kelangkaan pasokan bahan baku Polypropylene (PP) di Indonesia.

    Kondisi ini berdampak langsung pada penurunan volume pesanan dari berbagai sektor konsumen, mulai dari industri semen, beras, tepung, hingga pertambangan. Memasuki semester kedua, perseroan mulai melihat adanya penurunan kuantitas permintaan karena konsumen cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan pembelian.

    Menghadapi situasi tersebut, manajemen YPAS telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga stabilitas operasional dan keuangan perusahaan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penyesuaian harga jual secara bertahap guna menyelaraskan dengan kenaikan harga bahan baku serta bahan pembantu lainnya, seperti tinta, solvent, dan film OPP. Selain itu, perseroan juga menerapkan manajemen persediaan yang lebih ketat dengan mengatur pembelian bahan baku sesuai kebutuhan operasional.

    Di sisi lain, perusahaan memperkuat pengelolaan arus kas dengan memperketat kebijakan pembayaran kepada pelanggan. Langkah ini dilakukan melalui permintaan uang muka (down payment) serta memperpendek termin pembayaran, misalnya dari 90 hari menjadi 60 hari, guna menjaga likuiditas tetap sehat di tengah tekanan biaya produksi. (end)