BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

DMAS OPTIMISTIS KAWASAN INDUSTRI HINGGA 2027, DATA CENTER JADI PENOPANG BISNIS

Terbit Pada

07 September 2026

Saham Terkait

Terakhir diperbarui: 01-09-2026, 02:01:pm

24945473

IQPlus, (7/9) - PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) melihat prospek kawasan industri hingga 2027 masih positif, meskipun tingkat suku bunga yang relatif tinggi menjadi salah satu tantangan bagi sektor properti, khususnya residensial.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan DMAS, Tondy Suwanto menilai kondisi tersebut tidak serta-merta menghambat permintaan dari sektor industri, terutama untuk kebutuhan pusat data (data center). Bahkan, melemahnya nilai tukar rupiah dinilai dapat menjadi faktor yang menarik bagi investor asing karena membuat biaya investasi di Indonesia relatif lebih kompetitif.

"Kalau data center dari foreign investor, tentunya hal ini menguntungkan di tempat kami. Kami punya fasilitas yang premium. Walaupun ada kenaikan suku bunga dan hal lain, karena mereka membutuhkan fasilitas kami, mereka memilih di Delta Mas. Selain dari Asia, USA, ada beberapa juga dari domestic," ujar Tondy dalam Public Expose Live 2026, yang digelar, Senin (7/9).

Tondy mengungkapkan, kawasan industri Deltamas memiliki sejumlah fasilitas yang mendukung kebutuhan operasional data center. Salah satunya adalah ketersediaan pasokan listrik yang memadai. Selain listrik, DMAS juga menyoroti dukungan infrastruktur berupa jaringan micro fiber optic, ketersediaan air, serta sistem keamanan dan pengawasan di kawasan Deltamas.

"Kami punya beberapa hal, seperti pasokan listrik, micro fiber optic, kemudian ketersediaan air. Air dikelola secara internal melalui manajemen air sendiri. Kemudian sistem keamanan untuk memberikan keamanan dan pengawasan di area Deltamas, khususnya data center,"tegasnya.

Akan tetapi, Tondy menambahkan bahawa, prospek kawasan industri hingga 2027 masih sangat baik. Tingginya suku bunga dinilai lebih menjadi tantangan bagi sektor residensial, sementara permintaan dari sektor industri, termasuk data center, masih menunjukkan peluang pertumbuhan.

"Outlook sampai 2027 itu masih sangat baik, tentunya untuk kawasan industri. Meskipun bicara suku bunga, ini tantangan bagi residensial," katanya.

Lebih lanjut, DMAS menilai pelemahan rupiah justru dapat memberikan keuntungan bagi investor asing yang membutuhkan fasilitas data center di Indonesia. Kondisi nilai tukar tersebut membuat biaya investasi bagi investor berbasis valuta asing menjadi relatif lebih murah.

"Namun khususnya data center, melemahnya rupiah malah lebih murah bagi mereka," ujar manajemen.

Dengan dukungan infrastruktur dan fasilitas kawasan industri yang tersedia, DMAS memandang prospek bisnis kawasan industri masih positif dan prospektif hingga beberapa tahun mendatang. (end)