DI TENGAH TEKANAN RUPIAH, ALFAMIDI TETAP OPTIMISTIS INDUSTRI RITEL TUMBUH
Share via
Terbit Pada
04 June 2026
Saham Terkait
Terakhir diperbarui: 25-03-2026, 09:20:am
15451928
IQPlus, (4/6) - PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) atau Alfamidi menyoroti dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga sejumlah produk konsumsi. Kondisi tersebut terutama akan memengaruhi barang-barang yang menggunakan bahan baku impor dalam proses produksinya.
Direktur MIDI, Suantopo Po, mengatakan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS akan meningkatkan biaya bahan baku bagi produsen. Akibatnya, harga produk yang beredar di pasar berpotensi mengalami penyesuaian.
"Banyak produk yang menggunakan komponen impor pasti akan mengalami kenaikan harga. Seperti contohnya susu, kacang hijau, atau kedelai. Produk jadi yang menggunakan bahan baku tersebut pasti akan mengalami kenaikan harga," ujar Suantopo dalam paparan publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Kamis (4/6/2026).
Menurut Suantopo, sebagai perusahaan ritel, Alfamidi akan mengikuti penyesuaian harga yang dilakukan oleh produsen atau prinsipal. Besaran kenaikan harga, kata dia, akan bergantung pada kebijakan masing-masing pabrikan dalam merespons kenaikan biaya produksi akibat pelemahan nilai tukar.
Meski menghadapi tantangan dari kondisi makroekonomi dan volatilitas kurs, manajemen MIDI tetap optimistis terhadap prospek industri ritel pada 2026. Perseroan menilai sektor perdagangan eceran memiliki karakter defensif sehingga relatif mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi.
Suantopo menambahkan pengalaman selama pandemi Covid-19 menjadi salah satu bukti ketahanan bisnis ritel modern. Menurutnya, perseroan mampu menjaga kinerja operasional dengan baik pada periode tersebut sehingga optimistis dapat menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang muncul ke depan.
"Perseroan tetap optimistis dengan pertumbuhan retail pada tahun 2026 ini karena memang perseroan bergerak di bidang perdagangan eceran yang industrinya defensif. Kita sudah buktikan perseroan juga berhasil melalui masa pandemi Covid-19 tahun 2020 dengan cukup baik," kata Suantopo. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
