BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    CHANDRA ASRI SIAPKAN MITIGASI RISIKO IMBAS KONFLIK DI TIMUR TENGAH

    Terbit Pada

    05 March 2026

    Saham Terkait

    Terakhir diperbarui: 04-03-2026, 09:10:am

    06337702

    IQPlus, (5/3) - PT Chandra Asri Pacific Tbk menyiapkan langkah mitigasi risiko untuk menjaga kelangsungan operasional pabrik di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu penutupan Selat Hormuz dan berpotensi mengganggu rantai pasok industri petrokimia.

    Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporasi PT Chandra Asri Pacific Tbk Suryandi dalam pernyataan di Jakarta, Kamis mengatakan perusahaan telah menyiapkan sistem manajemen pasokan serta perencanaan operasional guna menghadapi dinamika global tersebut.

    "Dalam konteks perkembangan situasi geopolitik global, termasuk potensi gangguan distribusi energi dan logistik di kawasan strategis seperti Selat Hormuz, penyampaian pemberitahuan ini merupakan langkah mitigasi risiko dan bentuk kehati-hatian korporasi," ujarnya.

    Ia menjelaskan deklarasi force majeure yang disampaikan perusahaan merupakan bentuk transparansi kepada investor dan mitra usaha terkait situasi eksternal di luar kendali perusahaan, serta merupakan praktik umum dalam bisnis global saat terjadi gangguan signifikan pada jalur logistik internasional.

    Suryandi menegaskan status force majeure tidak identik dengan penghentian aktivitas produksi.

    "Saat ini seluruh fasilitas produksi Chandra Asri tetap beroperasi. Tidak terdapat penghentian operasional, baik di kawasan industri Cilegon maupun fasilitas kami di Singapura," ujar Suryandi.

    Menurutnya, penutupan Selat Hormuz sebagai jalur strategis distribusi energi dan bahan baku global memang memicu gangguan logistik di berbagai negara. Sejumlah perusahaan yang memiliki ketergantungan impor dari kawasan tersebut turut merasakan perlambatan pengiriman.

    Namun, pihaknya memastikan gangguan eksternal tersebut tidak menghentikan aktivitas produksi, berkat kesiapan sistem manajemen risiko yang telah dibangun sebelumnya.

    Perusahaan juga menjalankan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga kesinambungan operasional di tengah dinamika global.

    "Kami secara aktif memantau perkembangan situasi global dan melakukan langkah antisipatif untuk menjaga kesinambungan operasional dan ketahanan bisnis. Sebagai bagian dari pengelolaan risiko yang terukur, perusahaan melakukan penyesuaian tingkat operasional secara fleksibel sesuai kebutuhan dan kondisi pasokan," ucap Suryandi.

    Selain itu, perusahaan juga terus berkoordinasi secara intensif dengan pelanggan, mitra logistik, serta pemangku kepentingan terkait guna meminimalkan potensi dampak terhadap distribusi produk dan pemenuhan kewajiban kontraktual.

    Menurut Suryandi, keberlanjutan industri strategis di tengah tekanan eksternal membutuhkan dukungan ekosistem yang kondusif dan kolaboratif.

    "Dalam situasi global yang dinamis ini, dukungan kebijakan pemerintah serta kolaborasi seluruh stakeholder menjadi faktor penting guna memastikan keberlanjutan operasional industri strategis nasional dan stabilitas rantai pasok domestik," ucapnya lagi. (end/ant)