BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    BI : PERANG AS-IRAN BERI DAMPAK TAK LANGSUNG KE PASAR FINANSIAL GLOBAL

    Kategori

    Ekonomi Bisnis

    Terbit Pada

    13 April 2026

    10251938

    IQPlus, (13/4) - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan bahwa perang AS-Israel terhadap Iran memberikan dampak tidak langsung terhadap pasar keuangan global yang sangat besar.

    "Kalau direct impact (dampak langsung), Iran dan Israel ini sebenarnya bukan financial hub secara global. Jadi kontribusi mereka dalam financial sector yang tidak terlalu besar, dan reaksi pasar di middle east juga relatif terbatas, tapi indirect impact-nya (dampak tidak langsung) itu akan sangat besar," ucapnya dalam agenda Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin.

    Dampak tidak langsung yang sangat besar disebabkan keterlibatan AS sebagai pusat keuangan global.

    Selain itu juga posisi strategis Iran di kawasan tersebut memicu ketidakpastian pasar keuangan global, sehingga meningkatkan sentimen risiko secara meluas, tidak hanya terbatas pada wilayah yang berkonflik.

    Kondisi tersebut memicu perilaku risk-off di kalangan pelaku pasar, yakni ketika investor cenderung menghindari risiko dan beralih mencari aset yang lebih aman (safe haven activity).

    Fenomena ini mengakibatkan aliran modal (capital flow) kembali ke negara-negara maju (advanced economies), yang tercermin pada penguatan indeks dolar (DXY) dan kenaikan imbal hasil (yeild) obligasi AS (US Treasury) yang menyentuh level 4,5-4,6 persen.

    Sebaliknya, kata dia, aliran modal ke negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, mengalami penurunan.

    Meskipun di pasar domestik mulai terdapat aliran masuk di Surat Berharga Negara (SBN), pasar saham, dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), secara keseluruhan Indonesia mencatat arus modal keluar (outflow) sekitar Rp21 triliun.

    "Jadi artinya ini ada risiko yang menyebabkan adanya ketidakpastian global, sehingga DXY-nya naik, yield UST juga naik, aliran modalnya emerging markets yang turun, tekanan terhadap nilai tukar berbagai mata uang itu juga meningkat," ungkap Destry. (end/ant)