BAPPENAS SEBUT CAPAIAN SDGS INDONESIA LEBIH BAIK DARI ASIA PASIFIK
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
29 June 2026
17942708
IQPlus, (29/6) - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional menyebut capaian indikator tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) Indonesia jauh lebih baik dari catatan Asia Pasifik maupun global sekalipun.
"Sebenarnya target SDGs kita sudah cukup baik kalau dibandingkan dengan catatan global. Global itu capaiannya 18 persen dan Asia Pasifik juga 18 persen," kata Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sekaligus Kepala Sekretariat Nasional SDGs Kementerian PPN/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali di Kota Padang, Senin.
Untuk capaian SDGs di Indonesia sendiri sudah mencapai 62 persen dimana terdapat 13 indikator yang mengalami kemajuan dan terdapat 24 persen lainnya dalam kategori merah. Dari hasil itu, Indonesia kini menempati urutan 77 dari 167 negara di dunia atau melesat 25 peringkat jika dibandingkan dengan 2019.
Dalam paparannya, ia menyampaikan sejumlah keberhasilan Indonesia dalam mengimplementasikan poin-poin SDGs atau tujuan pembangunan berkelanjutan. Hal itu meliputi akses listrik yang semakin menguat dan bagus.
Kemudian termasuk juga layanan energi, sektor ekosistem laut hingga kemajuan kemitraan yang berkontribusi terhadap implementasi tujuan pembangunan berkelanjutan di tanah air.
Namun, ia tidak menampik SDGs poin pertama terkait tanpa kemiskinan menjadi pekerjaan yang mesti segera dituntaskan, dan harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Sebagai contoh persoalan konsumsi pangan, tengkes yang terjadi masih menjadi isu hingga praktik perdagangan orang.
Pada kesempatan itu, ia turut menyinggung beberapa hal yang menjadi pekerjaan rumah SDGs di Provinsi Sumbar maupun Pulau Sumatera. Persoalan tersebut yakni kemiskinan, tengkes, angka kematian ibu, angka kematian bayi hingga akses terhadap pendidikan tinggi dan menengah serta perlindungan terhadap perempuan.
"Di pilar ekonomi, tenaga kerja informal, pengangguran, ketimpangan wilayah dan pembiayaan juga menjadi perhatian," kata dia.
Terakhir, di sektor lingkungan pemangku kepentingan masih dihadapi dengan isu-isu air minum yang aman dikonsumsi, hunian, sampah, limbah bahan berbahaya dan beracun, emisi gas rumah kaca dan resiko bencana. (end/ant)
Riset Terkait
Berita Terkait
