BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

BANK PERMATA PREDIKSI INFLASI CAPAI 3,13 PERSEN DI AKHIR 2026

Terbit Pada

03 August 2026

Saham Terkait

Terakhir diperbarui: 30-07-2026, 03:31:pm

21425695

IQPlus, (2/8) - Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata Faisal Rachman memperkirakan inflasi akan mencapai level 3,13 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada akhir 2026.

"Dengan asumsi pemerintah mempertahankan harga energi bersubsidi pada tingkat saat ini, kami memperkirakan inflasi umum akan mencapai sekitar 3,13 persen pada akhir tahun 2026," kata Faisal, di Jakarta, Minggu.

Bank Permata memperkirakan adanya tekanan inflasi hingga akhir tahun yang dipicu oleh gejolak pada sisi penawaran (supply).

Pada sisi domestik, kebijakan pemerintah yang pro pertumbuhan (pro-growth) diperkirakan akan mendukung pertumbuhan jumlah uang beredar (M2), sehingga berpotensi menimbulkan tekanan inflasi.

Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mendorong permintaan pangan, juga diperkirakan akan mempengaruhi laju inflasi harga bergejolak.

Bank Permata merekomendasikan pemerintah untuk mewaspadai potensi El Nino agar inflasi tetap terkendali.

Sementara pada sisi eksternal, ketegangan konflik Timur Tengah dan prospek kebijakan Federal Reserve (The Fed) diperkirakan membayangi risiko inflasi impor.

Pasalnya, menurut Faisal, keduanya berkontribusi terhadap lingkungan pasar yang lebih risk-off, terbatasnya arus masuk modal, dan depresiasi rupiah.

Faisal menyebut risiko itu terlihat pada inflasi di sisi penawaran yang lebih tinggi dibandingkan inflasi di sisi permintaan.

"Hal ini menunjukkan meningkatnya risiko peralihan biaya produsen ke harga konsumen karena biaya input, khususnya bahan baku impor, terus meningkat," ujarnya pula.

Akan tetapi, Faisal menyoroti proyeksi inflasi Bank Permata pada level 3,13 persen dapat mengalami penyesuaian bila ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat, yang mengakibatkan lonjakan harga energi global yang berkepanjangan.

Sebab, kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap pemerintah untuk menaikkan harga energi bersubsidi.

Kondisi yang sama juga berpotensi meningkatkan kemungkinan dan justifikasi kenaikan BI-rate tambahan.

Sejauh ini, Bank Permata terbuka dengan peluang BI-Rate kembali naik pada tahun ini bila kondisi perekonomian terus memburuk.

"Namun, skenario dasar kami tetap bahwa BI akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada 5,75 persen, karena kami yakin kenaikan suku bunga terbaru telah memperhitungkan kemungkinan kenaikan Fed Fund Rate (FFR) pada kuartal IV 2026," ujarnya lagi. (end/ant)