BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

BANK NEO COMMERCE BUKUKAN LABA BERSIH Rp294,85 MILIAR PADA SEMESTER I 2026

Terbit Pada

02 August 2026

Saham Terkait

Terakhir diperbarui: 19-06-2026, 04:43:pm

21424804

IQPlus, (2/8) - PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) membukukan laba bersih setelah pajak (profit after tax/PAT) sebesar Rp294,85 miliar pada semester I 2026, meningkat 6,81 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan semester I 2025 sebesar Rp276,05 miliar.

"Fokus kami selalu pada penguatan tata kelola serta memastikan produk dan layanan yang kami hadirkan tetap relevan dengan kebutuhan keuangan masyarakat, terutama untuk kebutuhan sehari-hari," kata Direktur Utama Bank Neo Commerce Eri Budiono dalam media gathering di Jakarta, Jumat.

Per akhir Juni 2026, total aset Bank Neo Commerce mencapai Rp17,45 triliun, menurun sebesar 2,83 persen (yoy). Kredit juga mencatat penurunan, yakni sebesar 11,79 persen (yoy) menjadi Rp7,13 triliun pada semester I 2026.

Menurut perseroan, penurunan tersebut terutama berasal dari segmen komersial dan korporat sebagai bagian dari langkah perseroan untuk melakukan optimalisasi portofolio serta meningkatkan kualitas aset di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan.

Meski total kredit mengalami penurunan, perseroan mencatat penyaluran kredit kepada segmen konsumer dan UMKM secara gabungan mencapai Rp5,80 triliun, tumbuh 6,68 persen (yoy) dibandingkan Rp5,44 triliun pada semester I 2025.

Hal ini, catat perseroan, menunjukkan komitmen BNC untuk terus memperkuat pembiayaan pada segmen yang memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang sekaligus menjaga kualitas portofolio kredit.

Dari sisi kualitas, rasio non performing loan (NPL) gross berhasil ditekan menjadi 2,99 persen dibandingkan 3,10 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perbaikan kualitas kredit tersebut, catat perseroan, merupakan hasil dari penguatan tata kelola risiko, penyempurnaan proses underwriting yang dilakukan secara digital, serta penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.

Eri menjelaskan bahwa upaya untuk mendorong kredit segmen konsumer dan UMKM merupakan hasil keputusan yang telah didiskusikan bersama pemegang saham pengendali. Di tengah kondisi yang masih menantang, perseroan memilih untuk berfokus pada segmen ritel yang menjadi keunggulan perseroan dalam menganalisis dan menyeleksi nasabah.

Sementara dari sisi pendanaan, total dana pihak ketiga (DPK) Bank Neo Commerce tercatat sebesar Rp12,30 triliun per akhir Juni 2026, turun 7,74 persen (yoy). Namun, dana tabungan tumbuh 2,10 persen (yoy) menjadi Rp3,39 triliun.

Seiring penurunan komponen deposito yang lebih besar dibandingkan dana murah, rasio current account saving account (CASA) meningkat menjadi 32,21 persen pada Juni 2026 dari 30,09 persen pada Juni 2025.

Chief Financial Officer Bank Neo Commerce Sufen Triantio menjelaskan bahwa perseroan terus mengevaluasi suku bunga deposito dan telah beberapa kali menurunkannya. Langkah tersebut mendorong penurunan biaya dana (cost of fund) pada semester I 2026.

"Ketika yield bank naik dan cost of fund turun, business model tersebut akan terus kita pertahankan," kata Sufen.

Ia menambahkan bahwa perseroan juga terus memperluas produk wealth management dan layanan transaksi, termasuk QRIS, untuk meningkatkan penghimpunan dana murah dari nasabah yang tidak terlalu sensitif terhadap tingkat suku bunga (end/ant)