BAHANA TCW: OBLIGASI PEMERINTAH DAN SAHAM INDONESIA MASIH MENARIK HINGGA AKHIR 2026
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
29 July 2026
20947314
IQPlus, (29/7) - PT Bahana TCW Investment Management mempertahankan pandangan konstruktif terhadap obligasi pemerintah dan saham Indonesia hingga akhir 2026. Prospek itu ditopang oleh meredanya sebagian risiko eksternal, stabilisasi harga energi, ekspektasi kebijakan moneter global yang tidak seketat perkiraan awal, serta kondisi fiskal domestik yang sejauh ini masih terkendali.
Ekonom Bahana TCW Emil Muhamad mengatakan tema besar strategi investasi kuartal III 2026 adalah "Recalibrating After Shocks", yang menggambarkan fase ketika pasar menata ulang ekspektasi setelah guncangan geopolitik dan lonjakan harga minyak. Ia menilai kenaikan Brent yang sempat mendekati 90 dolar AS per barel tidak akan bertahan lama, selama risiko terhadap jalur distribusi energi utama di Selat Hormuz tidak kembali membesar. Menurut Emil, lonjakan harga energi sebelumnya sempat mendorong bank sentral utama dunia, termasuk The Fed, ECB, Bank of England, dan Reserve Bank of Australia, mempertahankan bias kebijakan yang lebih ketat.
Namun, tekanan inflasi dinilai bersifat sementara dan mulai mereda seiring normalisasi harga energi global. Bahana TCW memperkirakan The Fed tidak akan seagresif ekspektasi pasar saat ini.
"Dalam skenario dasarnya, bank sentral AS itu hanya berpotensi menaikkan suku bunga sekali lagi menjelang akhir tahun, dan itu pun bila data ekonomi memerlukannya. Di sisi lain, inflasi Amerika Serikat dinilai masih relatif terkendali sehingga belum mendorong perubahan arah kebijakan yang lebih agresif," tambah Emil.
Di dalam negeri, Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate secara bertahap hingga 5,75 persen pada Juni 2026. Kebijakan itu mencerminkan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengantisipasi tekanan inflasi, terutama dari sisi pangan pada paruh kedua tahun ini. Ke depan, BI diperkirakan masih akan pro stability dan menaikkan suku bunga, dengan ekspektasi terbatas setidaknya satu kali lagi di sisa tahun 2026 ini. Obligasi masih menarik Pada level saat ini, imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun telah menyentuh tingkat 7.38 persen.
Menurut Bahana TCW, belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan sejumlah indikator makro yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Dari sisi fiskal, realisasi defisit pemerintah hingga Juni 2026 tercatat 0,8 persen dari PDB, jauh di bawah kekhawatiran pasar sebelumnya. Pemerintah juga telah merealisasikan pembiayaan melalui penerbitan obligasi senilai kumulatif Rp452,0 triliun per Juni 2026, atau 62,6 persen dari target pembiayaan tahun ini. Lebih lanjut, Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) pada periode yang sama telah mencapai Rp 255.5 triliun.
Percepatan pembiayaan di awal tahun menurunkan kebutuhan penerbitan surat utang dalam jumlah besar pada sisa 2026. Artinya, risiko kelebihan pasokan obligasi di pasar ikut berkurang, sehingga menjadi faktor pendukung bagi harga SBN. Sentimen tambahan datang dari S&P Global Ratings yang pada 13 Juli 2026 kembali menegaskan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stabil.
Kombinasi defisit yang terkendali, disiplin pembiayaan, dan afirmasi peringkat kredit inilah yang membuat Bahana TCW mulai menambah keyakinan terhadap obligasi pemerintah pada kuartal III 2026.
Saham patut dilirik
Selain obligasi, valuasi saham Indonesia juga dinilai sudah berada di area yang menarik setelah IHSG terkoreksi tajam secara year-to-date. Kondisi itu membuka ruang bagi investor yang berani mengambil risiko untuk mulai masuk secara selektif.
Meski demikian, Bahana TCW menilai masih ada beberapa risiko yang perlu dicermati. Pertama, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan dapat membuat The Fed bertahan lebih lama di jalur hawkish.
Kedua, eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi bisa kembali menekan aset berisiko. Ketiga, risiko El Nino terhadap inflasi pangan domestik, khususnya beras, masih berpotensi menahan ruang kenaikan harga obligasi.
Dengan inflasi domestik yang masih terkendali dan imbal hasil riil yang relatif kompetitif dibandingkan negara-negara sejenis, Bahana TCW tetap mempertahankan sikap konstruktif terhadap pasar Indonesia. Strategi yang diambil masih bersifat bertahap, yakni menambah posisi dan durasi secara selektif, bukan overweight penuh.
"Untuk saat ini kami mulai konstruktif. Langkahnya masih menambah posisi dan durasi secara bertahap, belum overweight," tutup Emil. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
