Latest update: 07-10-2026, 15:19
Americas
The Fed kembali menaikkan suku bunga dan sinalkan pengetatan lanjutan. The Fed menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 bps ke kisaran 3,75%-4,00%, kenaikan pertama sejak 2023, sekaligus mengindikasikan masih ada peluang satu hingga dua kali kenaikan suku bunga tambahan ke depan. Proyeksi terbaru juga menunjukkan inflasi diperkirakan tetap lebih tinggi, sementara pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja AS masih relatif kuat, memperkuat narasi higher for longer.
Emas tertekan pasca kenaikan suku bunga The Fed. Harga emas bertahan di bawah USD 4.300 per ons setelah The Fed menaikkan suku bunga 25 bps dan mengindikasikan masih ada peluang kenaikan suku bunga tambahan hingga akhir tahun. Di sisi lain, harga minyak turun ke sekitar USD 102 per barel karena Arab Saudi mulai memulihkan kapasitas pipa East-West, sehingga membantu meredakan sebagian kekhawatiran pasokan energi global.
Yield UST tembus 5% pasca kenaikan suku bunga The Fed. Yield UST tenor 10 tahun naik di atas 5%, level tertinggi sejak 2007, setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 bps dan mengindikasikan masih ada ruang untuk pengetatan lanjutan. Kenaikan harga energi, proyeksi inflasi yang lebih tinggi, serta derasnya penerbitan obligasi korporasi turut memperkuat sentimen higher for longer di pasar obligasi global. Di sisi lain, indeks dolar AS menembus level 100 seiring meningkatnya ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi dalam waktu lebih lama.
Europe
Aktivitas industri Eurozone masih lemah, sementara tekanan upah mulai mereda. Produksi industri Eurozone turun 0,1% MoM pada Juli 2026 untuk bulan kedua berturut-turut, mencerminkan aktivitas manufaktur yang masih belum pulih sepenuhnya, terutama di Jerman dan Prancis. Di sisi lain, pertumbuhan upah di kawasan Eurozone melambat menjadi 3,0% YoY pada kuartal II-2026, yang dapat membantu meredakan sebagian tekanan inflasi domestik. Sementara itu, inflasi Inggris naik ke 3,1% YoY pada Agustus, didorong terutama oleh kenaikan harga energi sehingga menjaga risiko inflasi tetap tinggi di Eropa.
Yield obligasi Eropa bertahan tinggi meski inflasi Inggris sesuai ekspektasi. Yield Gilt Inggris tenor 10 tahun turun tipis dari level tertinggi 19 tahun setelah inflasi Agustus tercatat sesuai ekspektasi, mengurangi sebagian spekulasi kenaikan suku bunga BoE dalam waktu dekat. Namun, yield Bund Jerman tenor 10 tahun tetap naik ke sekitar 3,55%, tertinggi sejak 2009, didorong ekspektasi pengetatan lanjutan ECB dan kekhawatiran inflasi yang masih tinggi akibat harga energi. Pasar kini menantikan keputusan The Fed, BoE, dan BoJ untuk mendapatkan petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.
Asia
Ekonomi Australia tetap resilien. Di Australia, indikator leading index menunjukkan momentum ekonomi yang masih stabil didukung konsumsi rumah tangga dan investasi pusat data, sehingga pasar tetap memperkirakan RBA akan mempertahankan bias hawkish meskipun kemungkinan menahan suku bunga pada pertemuan September. Yen Jepang melemah ke atas JPY 155 per USD setelah penguatan dolar AS menjelang pertemuan The Fed, meski ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ pada minggu ini masih menjadi faktor penopang utama mata uang Jepang.
Yield Jepang dan Australia terus menanjak. Yield JGB tenor 10 tahun menembus 3,0%, level tertinggi sejak 1996, seiring ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ pada pertemuan minggu ini dan meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan harga energi. Sementara itu, yield obligasi Australia tenor 10 tahun naik mendekati 5,4%, tertinggi sejak 2011, didorong kenaikan harga minyak dan meningkatnya peluang pengetatan lanjutan oleh RBA. Kombinasi inflasi energi dan prospek suku bunga global yang lebih tinggi terus menekan pasar obligasi kawasan Asia Pasifik.
