BCA Sekuritas
langen
Daily News

BRI : PENGUATAN DIGITAL BANKING DORONG RASIO DANA MURAH KE 67,6 PERSEN

Published On

31 August 2026

Related Stocks

Latest update: 28-08-2026, 04:20:pm

24249839

IQPlus, (31/8) - PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BRI) menyampaikan penguatan transaction banking dan ekosistem digital banking berdampak positif terhadap meningkatnya dana nasabah, khususnya dana murah (CASA) dengan rasio mencapai 67,6 persen per akhir triwulan II 2026.

Sebelumnya pada akhir triwulan II 2025, rasio dana murah BRI tercatat sebesar 65,5 persen. Adapun total dana pihak ketiga (DPK) per Juni 2026 mencapai Rp1.580,7 triliun.

Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa peningkatan dana murah juga didorong oleh besarnya basis nasabah yang memberikan natural funding franchise yang kuat.

Ia menambahkan pertumbuhan tabungan 11,3 persen (yoy) per akhir triwulan II 2026 menunjukkan bahwa funding BRI tidak semata-mata berasal dari institusional deposit, tapi juga dari basis nasabah BRI yang luas.

Dari sisi likuiditas, Achmad mengatakan kondisi BRI sangat baik dan terjaga, terlihat dari loan to deposit ratio (LDR) yang berada di level 90,8 persen. Menurut perseroan, level ini ideal untuk menjalankan fungsi intermediasi di perbankan.

Sementara dari sisi permodalan, capital adequacy ratio (CAR) BRI pada triwulan kedua 2026 tercatat 21,5 persen atau jauh di atas ketentuan.

"Dengan likuiditas yang terkelola dengan baik dan permodalan yang kuat, BRI memiliki fondasi yang memadai untuk melanjutkan pertumbuhan secara sehat dan berkelanjutan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas aset, likuiditas, permodalan dan tentunya profitabilitas," kata Achmad.

Sementara itu, Direktur Network dan Retail Funding BRI Aquarius Rudianto mengatakan pengguna aktif super app BRImo hingga akhir triwulan II 2026 mencapai 22,4 juta pengguna dengan mencatatkan 3,3 miliar transaksi finansial dengan volume mencapai Rp4.166 triliun.

Apabila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, jumlah pengguna aktif tersebut tumbuh 15,6 persen secara tahunan (year on year/yoy), sementara jumlah transaksi meningkat 30,6 persen (yoy) dan volume transaksi tumbuh 28,9 persen (yoy).

"Strategi kami memperbesar CASA dengan memperkuat transaksi dan menjadikan BRI semakin relevan dalam aktivitas keuangan sehari-hari nasabah, salah satunya melalui BRImo yang terus menunjukkan pertumbuhan," kata dia.

Aquarius menambahkan bahwa dari sisi merchant, perseroan juga terus memperkuat ekosistem pembayaran BRI. Melalui BRI Merchant, perseroan menyederhanakan proses onboarding, mengintegrasikan acceptance dan settlement, sekaligus menyediakan business analytics bagi merchant.

Hasilnya, sales volume per merchant tumbuh 17,8 persen (yoy), frekuensi transaksi meningkat 20,5 persen (yoy), dan jumlah productive merchant tumbuh 20,1 persen (yoy).

"Jadi, fokus kami bukan hanya menambah merchant, tetapi memastikan bahwa merchant tersebut aktif bertransaksi dan semakin terkoneksi dengan ekosistem BRI," kata Aquarius.

Ia mengatakan indikator yang lebih kuat terlihat pada transaksi QRIS di mana sales volume per store meningkat 53,8 persen (yoy) dari sekitar Rp8,7 juta menjadi Rp13,4 juta per bulan. Sementara transaksi juga tumbuh 86 persen (yoy) menjadi 583,4 miliar transaksi.

"Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa semakin kuatnya posisi BRI dalam mengelola transaksi harian masyarakat dan juga pelaku usaha termasuk UMKM," kata Aquarius.

Ia menambahkan bahwa peningkatan aktivitas digital tersebut kami konversikan menjadi funding dan revenue. Melalui Agen BRILink misalnya, dana murah (CASA) meningkat 28,6 persen menjadi Rp30,7 triliun, sementara fee-based income tumbuh 16,3 persen menjadi sekitar Rp915,7 miliar.

"Ini menunjukkan bahwa jaringan fisik dan digital BRI itu saling melengkapi dalam membangun ekosistem transaksi," ujar dia. (end/ant)