WAMENDAG SEBUT KOMUNIKASI STRATEGIS TAK TERPISAHKAN DARI KEMITRAAN PERDAGANGAN
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
21 July 2026
20154076
IQPlus, (21/7) - Ekonomi global berkembang dengan pesat. Meluasnya perdagangan digital, makin beragamnya rantai pasok, dan persaingan antarnegara kini tidak hanya didorong oleh kinerja ekonomi, tetapi juga kredibilitas dan kepercayaan. Bagi Kementerian Perdagangan, komunikasi strategis merupakan bagian tak terpisahkan dari kemitraan perdagangan global.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri secara virtual dalam pembukaan Seminar on Strategic Communication in Strengthening International Trade and Tourism Cooperation pada Senin (20/7). Seminar digelar secara hibrida dan merupakan hasil kolaborasi Kementerian Perdagangan dengan Universitas Sahid dan Universitas Nasional.
"Komunikasi strategis mendukung negosiasi perdagangan, mempromosikan produk dan jasa Indonesia, mendorong pelaku bisnis untuk memanfaatkan perjanjian perdagangan, serta memastikan bahwa kerja sama internasional memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Komunikasi dapat mengubah kebijakan menjadi pelaksanaan, perjanjian menjadi peluang, dan kemitraan menjadi kemakmuran yang berkelanjutan," jelas Wamendag Roro.
Perdagangan dan pariwisata saling berkaitan erat. Perdagangan memperkenalkan produk Indonesia ke dunia sementara pariwisata memperkenalkan kekayaan Indonesia itu sendiri. Keduanya secara bersama-sama memperkuat citra nasional, memperluas peluang ekonomi, dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
"Ketika didukung oleh komunikasi yang efektif serta kolaborasi yang kuat antara pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, dan mitra internasional, sektor-sektor ini menjadi penggerak utama daya saing global Indonesia. Perlu kita ingat, komunikasi bukan sekadar tentang menyampaikan informasi, melainkan menciptakan pemahaman, membangun keyakinan, dan memperkuat kemitraan," imbuh Wamendag Roro.
Dalam sektor perdagangan, kompleksitas hubungan bilateral dan internasional yang makin meningkat membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbasis bukti, terkoordinasi, dan responsif terhadap perkembangan kebijakan. Komunikasi yang efektif diperlukan untuk mendukung kerja sama ekonomi, membangun kepercayaan pasar, memperjelas prioritas negosiasi, dan memastikan bahwa posisi dan peluang pemerintah disampaikan secara konsisten kepada pelaku usaha, lembaga akademik, dan mitra internasional. Dalam hal ini, komunikasi harus diposisikan tidak hanya sebagai kegiatan tambahan, tetapi sebagai komponen integral dari implementasi kebijakan dan pembangunan kerja sama.
Seminar ini bertujuan memperkuat pemahaman kebijakan tentang peran komunikasi strategis dalam mendukung kerja sama perdagangan internasional dan pariwisata Indonesia. Seminar ini juga bertujuan mendorong kolaborasi yang lebih terstruktur antara lembaga pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan bisnis dalam perumusan dan implementasi agenda kerja sama yang relevan.
Adapun Kepala Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi Usahid Prasetyo Yoga Santoso menuturkan bahwa perdagangan dan pariwisata tidak bisa terpisah. Turis bisa menjadi konsumen, konsumen menjadi promotor, dan promotor menjadi duta Indonesia.
Terdapat empat prioritas strategis bagi pencitraan bangsa (nation branding). Naratif nasional yang jelas, kolaborasi yang kuat seluruh sektor, penelitian dan komunikasi berbasis data, serta nilai publik yang berkelanjutan dan inklusif.
Dalam diskusi, Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan Basaria Tiara L. Gaol menyoroti peran komunikasi strategis dalam mendukung kerja sama perdagangan bilateral, mengomunikasikan prioritas negosiasi, dan memperkuat koherensi kebijakan antara pemerintah dan pemangku kepentingan eksternal.
Tiara menyatakan, terdapat enam aktor utama dalam perundingan bilateral yang memiliki peran masing-masing. Pertama, Kementerian Perdagangan yang membuat batas perundingan. Kedua, Ditjen Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) yang menyusun teks, melakukan putaran, dan mendokumentasikan perundingan. Ketiga, tim perunding yang membawa substansi ke meja perundingan.
Keempat, sektor swasta (Kadin dan asosiasi pelaku usaha) yang mengidentifikasi sektor terdampak, memberikan peningkatan kapasitas, dan melakukan ekspor. Kelima, masyakarat sipil dan akademisi yang membaca dampak pada sektor nonkompetitif dan mendorong rekomendasi. Terakhir, negara mitra yang menafsirkan sinyal dan pesan tim perunding.
Adapun Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas SDM Industri Kementerian Pariwisata Faisal mengangkat isu pengembangan sumber daya manusia pariwisata, kesiapan kelembagaan, dan pendekatan komunikasi yang mendukung kualitas layanan dan kerja sama pariwisata berkelanjutan. Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Nasional Jakarta Swastiningsih memfokuskan diskusi pada perspektif akademik kerangka komunikasi, pengembangan kemitraan kelembagaan, dan kontribusi pendidikan tinggi dalam penguatan agenda kerja sama internasional.
Sementara itu, Konselor Perdagangan di Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia Scott McNamara memaparkan pandangan tentang hubungan perdagangan dan pariwisata bilateral serta wawasan tentang strategi kebijakan dan komunikasi yang cocok untuk memperkuat kerja sama antara kedua negara. Country Manager Katalis 2.0 MD Mohasin Kabir menjelaskan potensi konkret untuk kerja sama dengan Indonesia dan/atau perspektif pelengkap dari praktisi, perwakilan industri, atau mitra internasional tentang tantangan implementasi dan kolaborasi pemangku kepentingan. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
