TEKANAN SUKU BUNGA DAN ARUS INSTITUSI JADI PENENTU ARAH PASAR KRIPTO 2026
Share via
Kategori
Komoditi
Terbit Pada
05 January 2026
00438495
IQPlus, (05/1) - Memasuki 2026, pasar kripto diperkirakan masih berada dalam fase transisi di tengah tekanan makroekonomi global dan potensi pertumbuhan jangka menengah yang kian menguat. Dinamika suku bunga global, arus dana institusional, serta perilaku investor jangka panjang menjadi faktor utama yang akan menentukan arah pergerakan pasar kripto sepanjang tahun ini.
Menurut analisis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, pergerakan Bitcoin sejak akhir 2025 hingga awal 2026 berada di area support struktural yang krusial. Bitcoin dinilai mampu bertahan di atas level US$80.000 pada penutupan bulanan, yang secara historis menjadi zona stabilisasi harga. Namun demikian, tekanan masih terlihat dari sisi likuiditas dan sentimen global.
Data on-chain menunjukkan sinyal yang saling bertolak belakang. Coinbase Premium Index-indikator permintaan institusional dari Amerika Serikat-tercatat berada di zona negatif dalam periode yang cukup panjang. Kondisi ini mencerminkan tekanan jual dari investor AS yang masih berlangsung dan menjadi salah satu faktor tertahannya harga Bitcoin di bawah level US$90.000. Selama premi Coinbase belum kembali positif secara konsisten, pasar dinilai masih berpotensi mengalami fluktuasi dan koreksi terbatas.
Di sisi lain, tekanan jual mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Arus keluar dari ETF Bitcoin Spot memang masih terjadi, namun volumenya terus menurun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Menurut Fyqieh, kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan distribusi tidak lagi sekuat sebelumnya dan kerap menjadi fase transisi menuju konsolidasi harga yang lebih sehat.
Fyqieh juga mencermati pergerakan pemegang Bitcoin jangka panjang yang mulai kembali memasuki fase akumulasi. Data CryptoQuant mencatat pergeseran lebih dari 10.000 BTC ke status kepemilikan jangka panjang pada akhir 2025. Hal ini memperkuat pandangan bahwa tekanan jual struktural mulai berkurang, meski volatilitas jangka pendek masih sulit dihindari.
Dari sisi makroekonomi, kebijakan bank sentral Amerika Serikat masih menjadi tantangan utama bagi pasar kripto. Risalah FOMC terbaru menunjukkan The Fed cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, dengan peluang pemangkasan baru terbuka setelah Maret atau April 2026 apabila inflasi benar-benar melandai. Kondisi higher for longer ini membuat likuiditas global tetap ketat dan membatasi katalis penguatan harga kripto dalam jangka pendek.
"Pada awal 2026, risiko pasar kripto masih cenderung ke arah penurunan apabila data inflasi dan ketenagakerjaan tidak mendukung pelonggaran kebijakan moneter. Namun tekanan ini bersifat makro dan bukan disebabkan melemahnya fundamental kripto," ujar Fyqieh.
Meski demikian, prospek jangka menengah hingga akhir 2026 tetap dinilai konstruktif. Sejumlah analis global memproyeksikan Bitcoin berpotensi mencetak rekor harga baru hingga US$150.000 pada akhir 2026, didorong oleh meningkatnya adopsi institusional, meluasnya penggunaan ETF kripto, serta peran Bitcoin sebagai aset lindung nilai di tengah tingginya utang pemerintah dan ketidakpastian ekonomi global.
Selain Bitcoin, sektor stablecoin diproyeksikan tumbuh signifikan. Tren penggunaan stablecoin diperkirakan semakin meluas, terutama melalui integrasi kartu pembayaran berbasis stablecoin serta dukungan regulasi yang lebih jelas. Pasokan stablecoin global diperkirakan meningkat lebih dari 50% seiring meningkatnya adopsi oleh institusi keuangan dan perusahaan teknologi.
Dari sisi regulasi, 2026 diperkirakan menjadi fase penting bagi industri kripto global. Di Amerika Serikat, regulasi yang lebih komprehensif seperti Clarity Act berpotensi disahkan dan memberikan kepastian hukum yang lebih jelas bagi pelaku industri. Sementara di Indonesia, RUU P2SK dinilai akan menjadi penentu arah industri kripto nasional ke depan. Meski regulasi yang lebih ketat berpotensi menekan pasar dalam jangka pendek, kepastian hukum justru dipandang sebagai fondasi penting bagi pertumbuhan industri yang berkelanjutan.
"Secara keseluruhan, 2026 kemungkinan menjadi tahun dengan volatilitas tinggi di awal, namun membuka peluang pemulihan dan penguatan secara bertahap. Fase konsolidasi saat ini merupakan bagian dari proses menuju struktur pasar yang lebih matang," tutup Fyqieh.
Fyqieh juga mengimbau investor untuk tetap berhati-hati, memahami risiko, dan menerapkan strategi investasi yang selaras dengan profil risiko masing-masing di tengah ketidakpastian global. Ke depan, arah pasar diperkirakan akan semakin jelas ketika Bitcoin keluar dari area konsolidasinya. Penembusan di atas US$105.000 berpotensi membuka ruang penguatan lanjutan, sementara penurunan di bawah US$80.000 dapat memicu koreksi yang lebih dalam. Momentum tersebut pada akhirnya akan menjawab pertanyaan besar pasar: apakah 2026 menjadi awal bull market baru atau justru fase bear market berikutnya. (end)
