SURVEI SUN LIFE ASIA: KESIAPAN GENERASI PENERUS JADI ANCAMAN UTAMA KEBERLANJUTAN WARISAN
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
28 September 2026
27050816
IQPlus, (28/9) - Laporan terbaru Sun Life Asia bertajuk Passing the Torch: When Legacy Means More Than Money mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam menjaga keberlanjutan kekayaan keluarga lintas generasi adalah kesiapan generasi penerus dalam mengelola aset. Studi tersebut mencatat, meski perencanaan warisan di Asia terus meningkat, baru 1 dari 5 responden (20%) yang merasa benar-benar siap untuk mewariskan peninggalan mereka saat ini.
Riset tersebut menemukan adanya pergeseran cara pandang masyarakat Asia terhadap warisan. Sebanyak 74% responden menyatakan ingin mewariskan nilai-nilai, pengetahuan, dan pelajaran hidup di samping aset finansial. Selain itu, 70% responden mengkhawatirkan kekayaan mereka tidak dapat bertahan hingga generasi berikutnya.
Secara keseluruhan di Asia, kesadaran membuat perencanaan warisan tercatat melonjak. Responden yang telah memiliki rencana warisan tertulis dan mengomunikasikannya kepada keluarga meningkat pesat dari 10% pada 2025 menjadi 22% pada 2026. Sebaliknya, kelompok yang belum memiliki rencana warisan turun dari 31% menjadi 15%.
Trend positif ini juga terlihat di Indonesia. Jumlah masyarakat yang belum memiliki rencana warisan menyusut menjadi 9% dari sebelumnya 20% pada 2025. Sementara itu, 30% responden di Indonesia telah memiliki rencana warisan tertulis, meski belum mengomunikasikannya kepada ahli waris.
Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menekankan pentingnya komunikasi dan kesamaan pandangan di dalam keluarga terkait pengelolaan aset.
"Perencanaan warisan tidak cukup hanya dengan dituangkan secara tertulis. Keluarga perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan dari kekayaan yang diwariskan, prinsip yang menjadi panduan dalam mengelolanya, serta bagaimana generasi berikutnya dapat meneruskan tanggung jawab tersebut," ujar Albertus.
Pendidikan dan Nilai-Nilai Jadi Prioritas Utama
Selain uang dan properti, responden menempatkan keterampilan dan pendidikan (33%), nilai keluarga (32%), serta pelajaran hidup (31%) sebagai hal utama yang ingin diwariskan. Pendidikan menjadi fokus dominan, di mana 48% responden menjadikannya prioritas utama. Bagi mereka yang mengalokasikan aset finansial, 45% mengarahkannya untuk membiayai pendidikan.
Di Indonesia, dorongan memberikan fasilitas pendidikan bahkan lebih kuat. Sebanyak 65% responden Indonesia menempatkan kesempatan pendidikan dalam tiga prioritas utama warisan, dan 61% pemilik aset finansial berniat menggunakannya untuk dana pendidikan.
Kekhawatiran Antargenerasi dan Peran Penasihat Keuangan
Di kalangan generasi muda, kekhawatiran terhadap ketahanan kekayaan tercatat paling tinggi. Sebanyak 76% Gen Z dan Milenial merasa khawatir aset keluarga tidak bertahan lama, dibandingkan dengan Gen X (66%) dan Baby Boomers (59%). Kendati demikian, 65% Gen Z dan 67% Milenial optimistis kekayaan mereka dapat memberi manfaat hingga beberapa generasi ke depan.
Faktor utama yang memicu kekhawatiran masyarakat umum adalah kesiapan penerima warisan (52%), kondisi pasar (49%), dan konflik keluarga (44%). Khusus di Indonesia, potensi konflik keluarga justru menjadi ancaman terbesar yang paling dikhawatirkan (58%), disusul oleh kesiapan penerima warisan (53%).
Untuk menekan risiko tersebut, keterlibatan penasihat keuangan dinilai makin krusial. Data Sun Life menunjukkan 46% responden telah memanfaatkan jasa penasihat profesional. Dari kelompok yang berkonsultasi dengan profesional tersebut, 79% menyatakan siap secara finansial untuk melakukan serah terima warisan.
Sementara itu, bagi kelompok masyarakat berpenghasilan sangat tinggi (high-net-worth individuals), fokus kekhawatiran bergeser ke arah tata kelola dan kompleksitas investasi. Hanya 20% dari kelompok ini yang mengkhawatirkan konflik keluarga, sedangkan risiko keputusan investasi yang salah (37%) serta kerumitan hukum dan perpajakan (29%) menjadi perhatian utama mereka. (end)IQPlus, (28/9) - Laporan terbaru Sun Life Asia bertajuk Passing the Torch: When Legacy Means More Than Money mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam menjaga keberlanjutan kekayaan keluarga lintas generasi adalah kesiapan generasi penerus dalam mengelola aset. Studi tersebut mencatat, meski perencanaan warisan di Asia terus meningkat, baru 1 dari 5 responden (20%) yang merasa benar-benar siap untuk mewariskan peninggalan mereka saat ini.
Riset tersebut menemukan adanya pergeseran cara pandang masyarakat Asia terhadap warisan. Sebanyak 74% responden menyatakan ingin mewariskan nilai-nilai, pengetahuan, dan pelajaran hidup di samping aset finansial. Selain itu, 70% responden mengkhawatirkan kekayaan mereka tidak dapat bertahan hingga generasi berikutnya.
Secara keseluruhan di Asia, kesadaran membuat perencanaan warisan tercatat melonjak. Responden yang telah memiliki rencana warisan tertulis dan mengomunikasikannya kepada keluarga meningkat pesat dari 10% pada 2025 menjadi 22% pada 2026. Sebaliknya, kelompok yang belum memiliki rencana warisan turun dari 31% menjadi 15%.
Trend positif ini juga terlihat di Indonesia. Jumlah masyarakat yang belum memiliki rencana warisan menyusut menjadi 9% dari sebelumnya 20% pada 2025. Sementara itu, 30% responden di Indonesia telah memiliki rencana warisan tertulis, meski belum mengomunikasikannya kepada ahli waris.
Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menekankan pentingnya komunikasi dan kesamaan pandangan di dalam keluarga terkait pengelolaan aset.
"Perencanaan warisan tidak cukup hanya dengan dituangkan secara tertulis. Keluarga perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan dari kekayaan yang diwariskan, prinsip yang menjadi panduan dalam mengelolanya, serta bagaimana generasi berikutnya dapat meneruskan tanggung jawab tersebut," ujar Albertus.
Pendidikan dan Nilai-Nilai Jadi Prioritas Utama
Selain uang dan properti, responden menempatkan keterampilan dan pendidikan (33%), nilai keluarga (32%), serta pelajaran hidup (31%) sebagai hal utama yang ingin diwariskan. Pendidikan menjadi fokus dominan, di mana 48% responden menjadikannya prioritas utama. Bagi mereka yang mengalokasikan aset finansial, 45% mengarahkannya untuk membiayai pendidikan.
Di Indonesia, dorongan memberikan fasilitas pendidikan bahkan lebih kuat. Sebanyak 65% responden Indonesia menempatkan kesempatan pendidikan dalam tiga prioritas utama warisan, dan 61% pemilik aset finansial berniat menggunakannya untuk dana pendidikan.
Kekhawatiran Antargenerasi dan Peran Penasihat Keuangan
Di kalangan generasi muda, kekhawatiran terhadap ketahanan kekayaan tercatat paling tinggi. Sebanyak 76% Gen Z dan Milenial merasa khawatir aset keluarga tidak bertahan lama, dibandingkan dengan Gen X (66%) dan Baby Boomers (59%). Kendati demikian, 65% Gen Z dan 67% Milenial optimistis kekayaan mereka dapat memberi manfaat hingga beberapa generasi ke depan.
Faktor utama yang memicu kekhawatiran masyarakat umum adalah kesiapan penerima warisan (52%), kondisi pasar (49%), dan konflik keluarga (44%). Khusus di Indonesia, potensi konflik keluarga justru menjadi ancaman terbesar yang paling dikhawatirkan (58%), disusul oleh kesiapan penerima warisan (53%).
Untuk menekan risiko tersebut, keterlibatan penasihat keuangan dinilai makin krusial. Data Sun Life menunjukkan 46% responden telah memanfaatkan jasa penasihat profesional. Dari kelompok yang berkonsultasi dengan profesional tersebut, 79% menyatakan siap secara finansial untuk melakukan serah terima warisan.
Sementara itu, bagi kelompok masyarakat berpenghasilan sangat tinggi (high-net-worth individuals), fokus kekhawatiran bergeser ke arah tata kelola dan kompleksitas investasi. Hanya 20% dari kelompok ini yang mengkhawatirkan konflik keluarga, sedangkan risiko keputusan investasi yang salah (37%) serta kerumitan hukum dan perpajakan (29%) menjadi perhatian utama mereka. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
