BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    STRATEGI REBALANCING, UNILEVER INDONESIA (UNVR) JUAL SARIWANGI RP1,5 TRILIUN

    Terbit Pada

    07 January 2026

    Saham Terkait

    Terakhir diperbarui: 29-12-2025, 04:10:pm

    00634094

    IQPlus, (07/1) - Raksasa barang konsumsi PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) secara resmi mengumumkan langkah strategis pelepasan (divestasi) salah satu merek legendarisnya, teh "Sariwangi". Langkah ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Pengalihan Bisnis (Business Transfer Agreement/BTA) pada 6 Januari 2026 sebagai bagian dari transformasi portofolio perseroan.

    Sekretaris Perusahaan Unilever Indonesia, Padwestiana Kristanti, dalam keterbukaan informasinya menyatakan bahwa perseroan telah sepakat menjual bisnis teh tersebut kepada PT Savoria Kreasi Rasa. Pihak pembeli dipastikan bukan merupakan pihak afiliasi dari perseroan. Proses penyelesaian transaksi ini ditargetkan rampung pada 2 Maret 2026 mendatang.

    Nilai Transaksi Lampaui Penilaian Independen

    Nilai transaksi pelepasan bisnis Sariwangi ini disepakati sebesar Rp1,5 triliun (di luar pajak). Angka tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan nilai pasar hasil penilaian independen oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Suwendho Rinaldy dan Rekan yang menetapkan valuasi sebesar Rp1,488 triliun.

    Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025, nilai transaksi ini setara dengan 45% dari total ekuitas perseroan. Mengingat porsinya yang signifikan, aksi ini dikategorikan sebagai "Transaksi Material" sesuai regulasi POJK 17/2020. Meski demikian, karena nilai transaksi berada di bawah ambang batas 50% ekuitas, perseroan tidak diwajibkan meminta persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

    Dampak Terhadap Kinerja Perseroan

    Manajemen memaparkan bahwa kontribusi bisnis teh Sariwangi terhadap kinerja konsolidasi UNVR tergolong moderat. Tercatat, aset bisnis ini hanya menyumbang 2,5% dari total aset perseroan, sementara kontribusinya terhadap laba bersih dan pendapatan usaha masing-masing sebesar 3,1% dan 2,7%.

    Langkah divestasi ini diambil agar perseroan dapat merealisasikan nilai investasi dan lebih fokus pada pengembangan kategori produk inti yang memiliki pertumbuhan tinggi serta margin yang lebih kuat. "Penjualan bisnis teh ini memungkinkan Perseroan untuk mengembalikan nilai kepada para pemegang saham dalam jangka pendek serta meningkatkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang," tulis manajemen dalam keterbukaan informasi tersebut. (end)