BCA Sekuritas
    langid
    Berita Harian

    STRATEGI INVESTASI DI TENGAH ESKALASI KONFLIK DAN KETIDAKPASTIAN GLOBAL

    Kategori

    Ekonomi Bisnis

    Terbit Pada

    30 April 2026

    11942129

    IQPlus, (30/4) - Ketegangan geopolitik melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memasuki fase yang mengkhawatirkan bagi stabilitas ekonomi global. Konflik ini memicu kekhawatiran serius terkait gangguan rantai pasok energi, terutama jika jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz terdampak. Kondisi yang penuh ketidakpastian ini telah mendorong fluktuasi harga minyak mentah dunia, yang secara langsung berimplikasi pada kenaikan biaya logistik dan inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

    Plt. Direktur Utama PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW), Danica Adhitama mengatakan bahwa dampak ketegangan geopolitik bagi perekonomian Indonesia yang paling terasa adalah tekanan terhadap nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Melemahnya Rupiah meningkatkan beban subsidi energi pemerintah dan biaya impor bahan baku industri. Dalam kondisi yang sangat fluktuatif ini, pentingnya ketersediaan dana darurat yang likuid menjadi krusial.

    "Strategi pertama dalam mengelola investasi saat ini adalah melakukan diversifikasi portofolio secara ketat. Investor disarankan untuk tidak memusatkan modal pada satu kelas aset saja, terutama pada instrumen investasi dengan underlying yang sangat bergantung pada stabilitas harga energi atau nilai tukar Rupiah. Menyebarkan aset ke dalam berbagai instrumen dengan karakteristik risiko yang berbeda akan membantu meminimalisir total kerugian ketika salah satu sektor pasar mengalami koreksi tajam," ujar Danica.

    Selain diversifikasi, penempatan dana pada aset aman atau safe haven menjadi langkah antisipatif yang umum dilakukan. Emas cenderung menjadi pilihan utama bagi banyak investor karena sifatnya yang mampu mempertahankan nilai di tengah devaluasi mata uang dan krisis politik. Selain emas, mata uang kuat seperti Dolar AS juga sering dijadikan instrumen pelindung nilai saat pasar negara berkembang mengalami tekanan modal keluar (capital outflow).

    Di pasar saham, fokus sebaiknya dialihkan ke sektor-sektor defensif. Sektor defensif adalah industri yang kinerjanya tidak terlalu terpengaruh oleh siklus ekonomi atau gejolak politik, seperti sektor konsumsi primer, kesehatan, dan utilitas. Perusahaan-perusahaan di sektor ini menyediakan barang dan jasa kebutuhan pokok yang permintaannya tetap stabil meskipun daya beli masyarakat secara umum menurun. Investasi pada perusahaan dengan fundamental neraca yang kuat dan ketergantungan rendah pada impor dapat menjadi perlindungan tambahan bagi portofolio saham. Pemilihan instrumen investasi juga perlu mempertimbangkan fleksibilitas dan keamanan modal. Deposito perbankan dan tabungan konvensional menawarkan keamanan nilai nominal yang terjamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), yang sangat penting dalam kondisi pasar yang tidak menentu. Meskipun imbal hasilnya cenderung moderat, instrumen ini memberikan kepastian di tengah tingginya risiko pasar modal.

    "Bagi investor yang mencari keseimbangan antara likuiditas dan imbal hasil, reksa dana pasar uang dapat menjadi opsi yang relevan. Di tengah banyaknya sentimen yang mempengaruhi pasar, reksa dana pasar uang tetap mampu mencatatkan kinerja positif dan menjadi instrumen penyeimbang karena stabilitasnya terhadap gejolak pasar. Tak hanya itu, ke depan, jenis investasi reksa dana lain seperti reksa dana pendapatan tetap dan campuran memiliki peluang pemulihan yang lebih cepat dengan dukungan instrumen obligasi sebagai penopang nilai aset," tutup Danica. (end)