BCA Sekuritas
langid
Berita Harian

SEKTOR EKSTERNAL JADI PENENTU PASAR SEMESTER II-2026, SAHAM FUNDAMENTAL JADI INCARAN

Kategori

Ekonomi Bisnis

Terbit Pada

07 July 2026

18737420

IQPlus, (7/7) - Ketahanan sektor eksternal Indonesia diperkirakan akan menjadi penentu utama sentimen pasar pada semester II-2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, para pelaku pasar dan investor diproyeksikan bakal lebih selektif dengan mengalihkan fokus pada emiten-emiten yang memiliki fundamental kokoh.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan bahwa kemampuan emiten dalam menjaga kinerja di tengah dinamika ekonomi dan era suku bunga tinggi menjadi pertimbangan utama.

"Kami melihat investor akan semakin memperhatikan kualitas fundamental perusahaan. Di tengah kondisi makro yang masih berkembang, emiten dengan likuiditas yang kuat, kualitas aset yang terjaga, serta kemampuan menghasilkan kinerja yang berkelanjutan akan memiliki daya tarik lebih besar," ujar Rully.

Atas dasar pertimbangan tersebut, sektor perbankan dengan likuiditas longgar dan kualitas aset yang aman menjadi pilihan utama. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), misalnya, dinilai memiliki posisi yang lebih unggul dibanding bank besar lainnya. Perusahaan ini didukung oleh potensi ekspansi net interest margin (NIM), loan to deposit ratio (LDR) yang memadai di level 74,1%, serta gross non-performing loan (NPL) yang terjaga di angka 1,8% dengan cost of credit stabil pada level 6 basis poin.

Rully menambahkan, di tengah meningkatnya perhatian terhadap kondisi makro, investor perlu menyeimbangkan analisis faktor eksternal dengan kualitas internal emiten guna menghadapi volatilitas pasar secara optimal.

Pergeseran Perhatian Pasar ke Sektor Eksternal

Sementara itu, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menilai perhatian pasar saat ini mulai bergeser pada kemampuan Indonesia dalam menjaga ketahanan sektor eksternal. Hal ini dipicu oleh realisasi neraca perdagangan Mei 2026 yang mencatat defisit sebesar USD1,61 miliar. Angka tersebut mengakhiri tren surplus yang sebelumnya bertahan selama 72 bulan berturut-turut, sekaligus menjadi defisit bulanan terbesar sejak April 2019.

Menurut Novani, defisit ini menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap sektor eksternal akibat perlambatan perdagangan global, normalisasi harga komoditas, dan tingginya nilai impor migas. Situasi ini terjadi bersamaan dengan transaksi berjalan yang masih defisit serta tren penurunan cadangan devisa.

"Berakhirnya surplus perdagangan selama 72 bulan menunjukkan bantalan eksternal Indonesia mulai menyempit. Dampaknya, ketergantungan terhadap arus modal portofolio untuk menjaga stabilitas eksternal menjadi semakin besar," kata Novani.

Ke depan, pasar tidak hanya mencermati potensi kembalinya surplus perdagangan, melainkan juga ketahanan sektor eksternal secara agregat. Beberapa faktor kunci yang akan menentukan stabilitas ke depan meliputi pemulihan permintaan global, pergerakan harga komoditas, kebutuhan impor energi, serta efektivitas kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE).

"Selama surplus perdagangan masih terbatas, transaksi berjalan tetap defisit, dan tekanan terhadap Rupiah belum sepenuhnya mereda, Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan bauran kebijakan yang berorientasi pada stabilitas," pungkas Novani. (end)