SAMBUT MUDIK LEBARAN 2026, ASDP TERAPKAN STRATEGI TERPADU
Share via
Kategori
Ekonomi Bisnis
Terbit Pada
30 January 2026
02930792
IQPlus, (29/1) - Mudik kerap dimaknai sebagai perjalanan penuh makna untuk pulang, bersua keluarga, dan melepas rindu.
Menjelang Angkutan Lebaran 2026, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan setiap mobilitas tersebut berlangsung aman, tertib, dan lancar, terutama pada lintasan krusial Sumatera-Jawa-Bali yang menjadi poros utama pergerakan nasional.
Kesiapan itu tidak disusun secara instan. Sejak rampungnya periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026, ASDP telah menjalankan rangkaian persiapan berkelanjutan sebagai fondasi menghadapi lonjakan Angkutan Lebaran.
Wakil Direktur Utama ASDP, Yossianis Marciano, menegaskan bahwa penguatan layanan dilakukan menyeluruh, mulai dari kesiapan armada, optimalisasi fasilitas, hingga kolaborasi erat dengan regulator dan para pemangku kepentingan.
Pada lintasan Merak-Bakauheni, ASDP menyiapkan 75 kapal yang beroperasi mengikuti pengaturan jadwal regulator.
Bersama stakeholder dan mitra, penguatan layanan dilakukan melalui penambahan Dermaga Ekspres Pelabuhan Merak menjadi dua dermaga, peningkatan kapasitas dermaga di Pelabuhan Ciwandan, serta penyiapan pelabuhan contingency seperti Krakatau Bandar Samudera (KBS) Cilegon dan Pelabuhan Panjang-Bandar Lampung.
Langkah antisipatif ini disiapkan untuk menjaga kelancaran operasional saat puncak arus kendaraan dan penumpang.
Sementara itu, lintasan Ketapang-Gilimanuk disiagakan 56 kapal. Kapasitas layanan diperkuat dengan penambahan kapal berkapasitas besar (GRT besar) dari lima menjadi tujuh unit.
Strategi ini berdampak pada peningkatan daya angkut sekaligus percepatan rotasi kapal, sehingga waktu tunggu dapat ditekan pada periode tersibuk Angkutan Lebaran.
Dari sisi pengelolaan arus, ASDP mengoptimalkan pola operasional Tiba-Bongkar-Berangkat pada kondisi padat dengan dukungan pemantauan real time melalui Port Operational Control Center.
Evaluasi buffer zone menjadi perhatian penting. Berbekal pengalaman tahun sebelumnya, koordinasi dan kolaborasi dengan Kepolisian serta Badan Usaha Jalan Tol diperkuat agar buffer zone berfungsi efektif sebagai area penyangga dan pengendali kepadatan, baik saat pelabuhan lengang maupun ketika terjadi lonjakan.
Transformasi digital tetap menjadi tulang punggung pengaturan arus. (end)
Riset Terkait
Berita Terkait
